Cerita Panas Membeli Gadis Perawan – Saat itu aku sedang berada di kantorku sibuk membaca surat-surat dan dokumen yang barusan dibawa Lidya, sekretarisku, untuk aku setujui. Kulihat di layar tampak sebuah nomor telepon yang sudah kukenal.

“Halo.. Mega.. Apa kabar” sapaku.

“Hi.. Pak Gobet.. Kok udah lama nih nggak kontak Mega”

“Iya habisnya sibuk banget sih” jawabku sambil terus menandatangani surat-surat di mejaku.

“Ini Pak.. Ada barang bagus nih..” terdengar suara Mega di seberang sana.

Mega ini memang kadang-kadang aku hubungi untuk menyediakan wanita untuk aku suguhkan pada tamu atau klienku. Memang terkadang untuk meloloskan proposal, perlu adanya servis semacam itu. Terkadang lebih ampuh daripada memberikan uang di bawah meja.

“Bagusnya gimana Dit?” tanyaku penasaran.

“Masih anak-anak Pak.. Baru 16 tahun. Kelas 1 SMA. Masih perawan”

Mendengar hal itu langsung senjataku berontak di sarangnya. Memang sering aku kencan dengan wanita cantik, ABG atupun istri orang. Tetapi jarang-jarang aku mendapatkan yang masih perawan seperti ini.

“Cantik nggak?” tanyaku

“Cantik dong Pak.. Tampangnya innocent banget. Bapak pasti suka deh..” rayu Mami Mega ini.

Setelah itu aku tanya lebih lanjut latar belakang gadis itu. Namanya Hesti, anak keluarga ekonomi lemah yang perlu biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya lagi sehabis SMP nanti, sehingga setelah dibujuk Mega, dia mau melakukan hal ini.

“Minta berapa Dit? ” tanyaku

“Murah kok Pak.. cuma lima juta”

Wah.. Pikirku. Murah sekali.. Aku pernah dengar ada orang yang beli keperawanan sampai puluhan juta. Singkat kata, akupun setuju dengan tawaran Mega. Aku berjanji untuk menelponnya lagi setelah aku sampai di lokasi nanti.

“Lidya.. Ke sini sebentar” kutelpon sekretarisku yang sexy itu.

Tak lama Lidya pun masuk ke ruanganku. Sambil tersenyum manis dia pun duduk di kursi di hadapanku.

“Ada apa Pak Gobet?” tanyanya sambil menyilangkan kakinya memamerkan pahanya yang putih. Belahan buah dadanya tampak ranum terlihat dari balik blousenya yang agak tipis. Ingin rasanya aku nikmati dia saat itu juga, tetapi aku lebih ingin menikmati perawan yang Ditawarkan Mega. Toh masih ada hari esok untuk Lidya, pikirku.

“Saya perlu uang lima juta untuk entertain klien. Tolong minta ke bagian keuangan ya” kataku.

“Baik Pak” jawabnya.

“Ada lagi yang bisa saya bantu Pak Gobet..?” Lidya berkata genit sambil menatapku menggoda.

“Nggak.. Mungkin lain kali Lidya.. Saya sibuk banget nih” kataku pura-pura.

Aku tak ingin staminaku habis sebelum bertempur dengan Hesti, anak SMP itu. Lidyapun beranjak pergi dengan raut muka kecewa, dan tak lama dia kembali membawa uang yang aku minta beserta slip tanda terima untuk aku tandatangani.

“Nanti kalau perlu lagi, panggil Lidya ya Pak” katanya masih mengharap.

“Baik Lidya.. Saya pergi dulu sekarang. Jangan telepon saya kecuali ada emergency ya” jawabku sambil mengemasi laptopku. Tak lama akupun sudah meluncur dengan Mercy kesayanganku menuju hotel di kawasan Semanggi. Akupun masuk di hotel yang berdekatan dengan plaza yang baru dibangun di daerah itu. Setelah mendapatkan kunci akupun bergegas menuju kamar suite di hotel itu.

Sumber