Cerita Seks Pengalaman Pertama Kaliku – Aqu bersekolah di sebuah SMP favorit di kotAqu dan ketika itu masih duduk di kelas 3 SMP. Aqu adalah anak terakhir dari 3 bersaudara dengan kakakku yang tertua telah menjadi dokter umum dan kakakku yang satu lagi masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negri.

Karena melihat keberhasilan kedua kakakku, maka ayah dan ibuku pun menuntut hal yang sama dariku. Setiap kali Aqu mendapatkan nilai yang jelek, pasti habislah Aqu terkena amarah dari kedua orangtuAqu. Bahkan ayah sering memukuliku dengan sabuknya.

Ketika itu Aqu mendapatkan nilai yang jelek di mata pelajaran sejarah, karena Aqu memang tidak terlalu pandai di bidang itu. Karenanya, makian dan sabetan ayah pun harus kuterima dengan lapang dada. Pamanku yang bernama Willyata, masih berumur 26 tahun sudah sering membelAqu ketika ayah marah karena Aqu mendapatkan nilai buruk. Tapi tampaknya pembelaannya sia-sia saja karena semakin dia membelAqu, bukannya kasihan, ayah justru semakin geram dan Paman Willy selalu saja terkena makiannya pula.

Sambil menangis, Aqu pun mengadu ke Paman Willy tentang perlakuan ayah di kamarnya yang persis berada di sebelah kamarku.

“Ayah jahat, Paman”

“Sudah Martina, kamu tenang saja”

“Martina pengen mati aja Paman, badan Martina sakit semua dipukulin Ayah terus”

“Hush jangan bilang gitu Martina, ayah tetap sayang kok sama kamu”

Lalu Aqu menyingkapkan dasterku dengan tujuan menunjukkan pahaqu yang sudah berwarna kebiru-kebiruan terkena pukulan ayah. Lalu Paman Willy beranjak mengambil body lotion dan membaringkan Aqu yang masih terisak-terisak di kasurnya.

“Sudah diam, jangan menangis terus, sini Paman pijitin”

Paman Willy dengan kelembutannya mengoleskan body lotion itu di pahaqu dan memijit-memijit pahaqu yang telah terbentang tanpa penutup di depan matanya.

“Auch Paman pelan-pelan, sakit Paman”

“Iya, Paman pelan-pelan kok Martina.”

Karena memang Aqu sudah akrab dengan Paman Willy sejak Aqu kecil, kami tumbuh bersama lebih sebagai kakak adik daripada hubungan paman-kemenakan. Lalu Paman memegang bahuku untuk menenangkanku, tapi karena punggungku dan bahuku juga terkena pukulan ayah, maka Aqu pun mengerang kesakitan.

“Auch Paman sakit sekali punggung Martina”

“Coba kamu lepas saja daster nya Martina, biar Paman pijitin juga punggung kamu”

Aqu pun mengambil posisi tengkurap ketika Paman Willy memijat-memijat punggungku. Sesekali, tangannya yang lembut menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhku, terutama karena memang Aqu adalah remaja puber yang baru saja mendapatkan perubahan-perubahan di tubuhku. Tangannya sesekali menyentil bagian samping buah dadaqu, dan setiap kali itu pula badanku menyentak-menyentak.

Sumber