Louis van Gaal nyaris menjadi manajer Tottenham Hotspur sebelum akhirnya memilih Manchester United. Kendati kini dihadapkan pada tugas yang sulit, Van Gaal tidak menyesal atas pilihannya itu.

Manajer Belanda itu sedang membangun kembali skuat MU yang terpuruk usai ditinggalkan Sir Alex Ferguson. Meski di pramusim terlihat menjanjikan tapi 'The Red Devils' masih memperlihatkan performa buruk di laga kompetitif.

Di liga, Wayne Rooney dkk. belum kunjung menang dari tiga pertandingannya; sekali kalah dan dua kali imbang. Sedangkan di kompetisi Piala Liga Inggris, MU tersingkir secara memalukan usai digebuk 0-4 oleh tim divisi tiga MK Dons.

"Tidak, saya tidak menyesali telah mengambil pekerjaan ini," ujar Van Gaal yang dikutip Daily Mirror. "Ya, ini adalah sebuah pekerjaan yang besar yang saya ambil di Manchester United. Saya sadar kok."

"Dan situasi ini tidak separah dari yang saya pikirkan. Saya tahu apa yang akan saya temukan. Saya bisa saja memilih sebuah pekerjaan yang lebih mudah. Jika saya bergabung Tottenham, pekerjaan di sana tidak akan sebesar seperti di sini di United."

"Saya bisa dengan mudah bergabung Spurs. Tapi saya memilih tantangan terbesar pekerjaan di sepakbola. Dan saya begitu ingin bergabung klub nomor satu di negara ini bukan Tottenam," lanjut pria yang pernah membesut Ajax, Bayern Munich, dan Barcelona itu.

"Secara finansial, tawaran Tottenham memang semenarik dari Man United tapi di mata saya, Man United masih lah klub nomor satu di Inggris. Tottenham benar-benar tidak."

Sejauh ini Van Gaal telah melakukan perubahan besar dengan mendatangkan beberapa pemain seperti Ander Herrera, Luke Shaw, Marcos Rojo, Angel di Maria, Daley Blind serta meminjam bomber tajam Radamel Falcao. Ia juga melego Alexander Buttner, Shinji Kagawa, Danny Welbeck, dan meminjamkan Tom Cleverley.