Cerita Sex Marketing Manager Menggairahkan – Perkenalkan namaku Firman (samaran). Aku adalah seorang WNI Keturunan yg berdomisili di kota D di pulau B. Usiaku 30 tahun. Saat ini aku sudah mempunyai seorang istri tapi belum dikaruniai seorang anak.

Aku dulu sangat suka bercinta dengan perempuan, tapi hanya terbatas pada orang yg aku kenal. Dan hanya hubungan ONE NIGHT STAND, alias cinta semalam. Salah satu pengalamanku ingin kubagikan pada para penggemar situs cersex.com. Dan kisah ini benar-benar aku alami. Akan aku coba menceritakannya.

dimulai dari kepindahanku ke Kota D di pulau B dari Kota S di Pulau J pada tahun 1997. Waktu itu aku baru berumur 25 tahun. Karena alasan untuk mengisi kekosongan di cabang perusahaan, aku dipindah tugaskan. Saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan garment terbesar di Indonesia. Dan tugasku adalah sebagai marketing yg tugasnya mengorder atau menawarkan barang baru ke toko-toko besar maupun kecil termasuk departement store seperti Matahari, dll.

Suatu hari aku menawarkan order ke sebuah dept store yg cukup populer di kota D tersebut. Untuk menemui bagian pembelian aku harus melewati bagian resepsionist terlebih dahulu. Pada hari itu aku terkejut karena yg menjaga bagian tersebut tdk kukenal (karena biasanya adalah orang lain).

Orangnya cantik, berwajah oval, manis, berkulit kuning langsat dan sangat mulus. Bodinya yg sangat bahenol, pinggang yg ramping, berpantat besar, dengan payudara berukuran kira-kira 36C. Berambut hitam panjang. Siapapun lelaki yg melihatnya pasti(aku jamin) menelan ludah dengan sex appealnya yg tinggi dan sangat memikat itu.

“Selamat siang”, sapaku.
“Oh ya, selamat siang,” jawabnya dengan suara yg halus.
“Saya ingin bertemu dengan Bapak Andrie di bagian pembelian,”

Kataku selanjutnya sambil mataku memandang tanpa berkedip ke wajah cantik dan dadanya, kebetulan waktu itu dia memakai blazer dengan kaus dalam yg berleher sangat rendah sehingga saya bisa melihat belahan payudaranya yg besar itu.

“Baik tunggu sebentar,” jawabnya sambil tersenyum manis, kemudian dia menelepon bagian pembelian.

Sambil menunggu itu tdk henti-hentinya aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Sementara dia, sepertinya merasa kuperhatikan, jadi sesekali tersenyum sambil menulis sesuatu di buku di hadapannya. Tak lama kemudian telepon berdering dan aku dipersilahkan masuk.

Setelah selesai urusan tersebut, aku keluar melewati meja resepsionist, dan kulihat cewek (sebut saja Ayu) seperti biasa menjaga meja tersebut.

Sumber