Cerita Panas Bapak Ngentot Bergantian Dengan Ibu dan Aku – Namaku Surti. Anak satu-satunya dari emak dan bapak.

Rumahku reyot, hanya gubuk bambu. Kalau menjelang pagi, sinar matahari menembusi dinding-dinding rumahku. Kalau hujan, yah ada bocor disana-sini.

Aku tak punya kamar sendiri, tempat tidurku berbagi dengan emak bapak. Lebarnya benar-benar ngepas. Jadi kalau tidur tidak bisa sembarang berguling-guling. Bisa-bisa aku terbangun di atas tanah esoknya. Yah, rumahku tak berubin. Hanya tanah.

Terkadang di beberapa sudut ada lubang semut hitam. Aku suka memancing mereka. Salur dari tanaman kumasukkan ke dalam lubang. Tak lama kemudian pasti ada yang menggigit. Kutarik perlahan. Semut hitam yang besar pun muncul ke permukaan, bergelantung di salur. Lalu ia terjatuh ke tanah dan kembali masuk ke lubang. Hihi..lucu.

Emakku penjual kayu bakar. Tiap pagi ia selalu ke gunung, mencari kayu-kayu kering untuk dijual. Hasilnya akan digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lain di pasar.

Bapakku pekerja serabutan. Ia akan ambil semua pekerjaan yang ditawarkan kepadanya.

“Mak aku pergi dulu ya ke sekolah,” ucapku seraya memeluk emak yang sedang duduk di kursi. Ia sedang menjahit baju yang robek.

Tanganku yang pendek tak dapat merangkul seluruh tubuhnya. Kepalaku kuletakkan di dadanya. Rasanya seperti sedang memeluk guling dan meletakkan kepala di dua bantal berbentuk melon yang empuk.
“Ya…eh itu topi merahnya mana?”
“Oh ya… ampir lupa.”

Emakku menoel pipiku, “Nanti disetrap lagi, gak bawa topi.”
“Ya dah mak, Surti pergi dulu.”
“Hati-hati di jalan.”

Aku berjalan dengan menggantung kedua sepatu hitamku di leher. Aku hanya memakainya kalau sudah tiba di sekolah. Maklum kami miskin. Jadi sepasang sepatu ini hanya ada satu-satunya. Agar tak cepat rusak, aku tak menggunakannya di jalan.

Selama di perjalanan aku berpikir, 6 bulan lagi, aku akan naik kelas. Pakaian seragam putih merah ini tidak akan kupakai lagi. Berganti dengan yang putih biru. Artinya harus beli seragam lagi. Keluhku. Perlu uang.

Setiap kali kebutuhan akan uang mendera, aku selalu gundah. Aku kasihan dengan bapak dan emakku. Raut wajah mereka berubah seperti orang yang sedang berpikir keras, kala aku meminta uang untuk kebutuhan sekolah. Aku bingung.

Di sekolah, di jam istirahat, aku suka melihat segerombolan laki-laki yang suka ngisengin anak-anak perempuan. Mereka suka noel-noel bagian-bagian tubuhnya. Yang paling sering jadi sasaran ya itu bagian dada dan pantat.

Sumber