Cerita Panas Berteduh Nikmat Aku mendapat tugas ke wilayah utara Karawang. Di sana pada waktu itu penduduknya dilanda kekurangan pangan, sampai banyak yg mengkonsumsi enceng gondok untuk makanan.

Aku belum pernah sama sekali ke daerah ini. Dari Jakarta lumayan jauh jaraknya, mungkin sekitar 100 km. Aku memang senang berpetualang, sehingga mendapat tugas ke daerah yg jauh seperti ini, bagiku menyenangkan.

Dari Jakarta aku mengendarai sepeda motor. Sekitar 2 jam baru aku mencapai Karawang. Menjelang memasuki Karawang, ada persimpangan ke kiri arah Rengkas Dengklok. Sebenarnya aku tdk punya tujuan khusus untuk di datangi, tetapi arahnya adalah Karawang Utara.

Aku mencoba mengarahkan tujuan ke Rengkas Dengklok. Sampai di kota kecil itu perjalanan lancar-lancar saja dan dari pengamatanku di sepanjang jalan, tdk ada tanda-tanda masyarakatnya sedang dilanda bencana kelaparan. Dari Rengkas Dengklok. hatiku membawa ke arah utara. Aku lalu menyusuri sungai aliran irigasi.

Sudah hampir satu jam aku berjalan, tetapi tdk ada tanda-tanda akan mendekati kampung. Keadaan kiri kanan jalan mulai jarang rumah. Hamparan sawah yg mengering. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 3 sore,.

Meski aku tdk tahu tujuanku, tetapi aku memastikan, suatu saat nanti aku akan bertemu dengan pantai. Rencanaku di sanalah aku akan beristirahat malam. Aku tdk tahu seperti apa situasi kampung di depanku. Namun aku yakin pasti ada desa nelayan, dan di situ pasti ada warung yg buka 24 jam. Di daerah nelayan memang biasa terdapat warung-warung yg buka 24 jam. Paling tdk di situ aku bisa istirahat.

Sambil aku berpikir mengenai tujuan di depanku, tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung berat. Kupercepat laju kendaraan, tetapi hujan sudah mendahului dengan rintik-rintik. Aku mencari tempat berteduh, tetapi di kiri kanan jalan tdk ada warung, bahkan rumah pun tdk ada. Aku melihat di kejauhan ada kerimbunan pohon-pohon yg dapat kupastikan di sana ada rumah penduduk.

Motor kuarahkan keluar dari jalan besar dan masuk ke jalan gang. Sekitar 100 m memang terlihat ada perkampungan. Aku segera mengarahkan motorku ke salah satu rumah yg mempunyai teras agak besar. Rumah ini memang agak terpencil dari lainnya. Aku tdk perduli yg penting aku tdk semakin basah.

Aku buru-buru meninggalkan motor dan segera berteduh. Hujan semakin deras. Pemilik rumah keluar menemuiku. Aku segera mengatakan bahwa aku numpang berteduh. Dia menyalamiku dan mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Aku menolak, karena terasnya cukup buat aku berteduh. Namun dia tetap menyilahkan aku masuk saja di dalam karena di luar angin sangat kencang dan agak tempias.

Aku akhirnya menuruti kemauannya. Dengan agak segan, aku duduk di ruang tamu rumahnya. Kuperhatikan rumahnya sangat sederhana, dengan lantai diperkeras semen dan dindingnya dari anyaman bambu. Pemilik rumah memperkenalkan diri Karta. Kutaksir usianya sekitar 35 tahun. Dia 14 tahun lebih tua dari aku.

Sumber