Cerita Seks Di Saat Kereta Terlambat Datang – Hampir 3 jam aku duduk duduk di peron stasiun. Suasana yg tadinya rame ketika aku masuki stasiun Tanjung Barat sudah mulai sepi. Banyak calon penumpang yg memilih pindah naik bis karena jadwal kedatangan kereta yg kacau.

Dan di saat kereta tujuan Bogor itu datang, banyak yg tdk bisa masuk karena penuhnya. Bahkan kereta express yg harga tiketnya hampir 10 kali lipat harga tiket kereta ekonomipun penuh dijejali penumpang.

Aku yg mulai tdk sabar mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Karena memang kalau harus pindah naik bis berarti keluar biaya extra yg tdk sedikit. Aku pikir masih ada banyak waktu. Disamping istri tdk sedang dirumah, aku tahu kalau masih ada kereta yg bakal lewat meski jam tanganku menunjuk angka 9 lewat 25 menit.

Dan seleksi alam sepertinya berlaku, kedatangan kereta harus diadu dengan kesabaran calon penumpang. Dari puluhan calon penumpang yg nampak 3 jam yg lalu, sekarang bisa dihitung dengan jari yg tersisa. Di antara mereka aku lihat seorang wanita yg duduk gelisah. Aku mencoba tdk peduli, dan asik dengan kubus ajaib yg ingin aku taklukkan misterinya. Tapi ketika aku dengar sapanya, mau tdk mau aku harus sedikit mengalihkan perhatianku.

“Mas, sampai jam berapa ya kereta bakal datang?” tanyanya yg ternyata telah duduk di sebelahku.
“Perhitunganku masih Mba, sebab biasanya jam segini kalau jadwalnya normal masih ada satu kereta ekonomi, 2 kereta ekonomi AC dan satu Express. Sabar saja mba.” Jawabku mulai menenangkan.
“Bukan begitu Mas, dengan jam segini temanku pasti sudah pulang, dan aku harus naik angkot yg belum tentu masih ada.” ia mencoba menjelaskan alasan kegelisahannya.
“Lha memang teman mba ngga mau nunggu?”
“Dia balik jam 9 dari taman topi, dan sudah jadi kesepakatan kalau aku belum sampai ya ditinggal saja.”
“Yah memang pasti sudah pulang sih. Lha memang pulang ke mana kok angkutan sudah tdk ada.”
“Jasinga.”

Waduh.. pikirku. itu sih jauh banget, ada kemungkinan memang sudah tdk ada mobil. Kalaupun ada, untuk perempuan cantik macam dia apa aman kalau harus pulang sendirian. Jangan-jangan dikira bukan perempuan baik-baik. Dan dengan dia bertanya padaku tentunya berharap ada solusi.

“Kalau hitungan waktusih paling tdk kita sampai stasiun Bogor jam sebelas. Dan belum lagi ke arah Jasinga. Apa tdk sebaiknya mba telelepon teman mba itu untuk njemput di stasiun Bogor?”
“Tdk mungkin Mas, tdk enak aku sama istrinya. Dan lagi dia hanya tetangga, bukan saudara.”
“Terus bagaimana Mba, apa nanti mba cari penginapan saja di Bogor, besok diteruskan jalan pulangnya.”
“Waduh Mas, buat beli susu anakku saja susah, apalagi buat bayar penginapan.”

Sumber