Cerita Dewasa Untung Di Sumur Tua – Aku dan si Harni sudah saling memahami dan satu rahasia. Karenanya, selaku manusia normal yang masih muda tentu saja tidak aneh jika kami memiliki keinginan untuk mengulangi peristiwa dahsyat yang luar biasa kenikmatannya itu. Kecenderungan seperti itu adalah fitrah bagi setiap manusai, di mana selalu ingin merasakan kembali suatu kenikmatan yang telah dialaminya, meskipun kesannya tentu jauh berbeda dengan yang pertama kali.

Singkat cerita, sekitar 4 hari dari kejadian yang pertama itu, kami kembali sepakat sewaktu berjalan bersama pada saat kami pulang dari sekolah untuk bangun lebih pagi lagi dan kami sepakat ketemu di sumur jam 4.00 wita (subuh). Namun, Harni nampaknya tepat waktu, ia tiba di sumur tua di tengah-tengah sawah yang pernah aku sebutkan dalam episod cerita aku yang lalu, sementara aku tiba di sumur itu jam 4.30 subuh hari itu karena agak terlambat bangunnya. Maklum aku tidur larut malam setelah tukar pikiran di pos ronda bersama para tukan ronda di kampung aku malam itu.

Awalnya Harni memang agak kesal menunggu lama, bahkan ia telah selesai mandi, namun masih mencuci beberapa lembar pakaiannya yang sebenarnya belum terlalu kotor dan tidak direncanakan akan dicuci, tapi hanya sekedar alasan kalau-kalau ada warga yang kebetulan mendapatinya sedang menunggu di sumur itu. Tentu saja sebelum ia mengeluarkan kata-kata kesalnya, aku segera mengucapkan permintaan maaf atas keterlambatan aku. “Mengucapkan maaf itu memang mudah, tapi aku ini selain kedinginan juga malu kalau-kalau ada orang lain melihat aku sendirian di sumur pada subuh hari” katanya setelah aku minta maaf padanya.

Untuk mengobati kekesalannya Harni itu, tanpa aba-aba aku langsung memeluknya dan mengecup sedikit pipinya, dalam hati aku biar ia merasa lebih hangat. Aku tentu lebih berani melakukan hal itu, karena aku sudah yakin ia pasti senang dan tidak bakal menolak sebab kami telah melakukan di rumahnya lebih dari sekedar memeluk tubuhnya yang langsing itu. Ia pun pasrah tanpa reaksi apa-apa merasakan hangatnya pelukan aku itu, mungkin dia masih agak malu-malu membalas pelukanku, maklum sikap seperti itu sudah merupakan fitrah bagi setiap wanita, apalagi dia masih gadis. Pelukan aku itu tidak berlangsung lama karena dia nampaknya agak minder, sehingga tidak berani memberikan reaksi yang sama.

Setelah aku lepaskan pelukan itu, dia pun beranjak duduk di pebukitan pinggir sumur dan aku segera menuju sumur buat mandi dan langsung melepas semua pakaian aku tanpa selembarpun tersisa di badan aku, lalu menyiramkan air ke seluruh tubuh aku tanpa peduli bahwa secara diam-diam si Harni terus memperhatikanku. Sikap Harni itu sebenarnya aku sadari, tapi aku pura-pura tidak memperhatikannya dan membiarkan saja menikmati pemandangan yang ada pada tubuhku, lagi pula kan kami sudah saling mencintai dan tidak mustahil juga dia merindukan untuk kembali menikmati peristiwa di atas selembar papan di rumahnya itu.

Sumber