erita Panas Pakdeku Ambil Keperawananku Aku sudah mulai dapat melupakan kejadian yg kulihat antara Mbak Frida dengan Pakdheku karena kesibukanku mempersiapkan ujian sekolah. Begitu ujian sekolah selesai aku mendapatkan liburan sambil menunggu pengumuman. Saat itu waktuku lebih banyak kuluangkan di rumah membersihkan rumah dan menyetrika serta membantu Mbak Frida memasak.

Pada suatu hari, aku harus berada sendirian di rumah dengan Pakdhe. Mbak Frida mengikuti acara darma wisata ke Selecta yg diadakan sekolahnya sebagai acara perpisahan. Mbak Frida sudah berangkat saat pagi-pagi buta. Aku yg sedang libur harus menggantikan Mbak Frida menyiapkan sarapan buat Pakdhe. Setelah membuat minuman teh untukku dan satu cangkir khusus untuk Pakdhe aku segera menyapu halaman.

Aku menyempatkan diri meminum tehku sebelum pergi ke kamar mandi. Teh yg kuminum rasanya agak lain, tapi aku tdk begitu curiga. Saat mandi itulah aku merasa ada yg agak aneh dengan tubuhku. Tubuhku terasa panas dan jantungku berdebar-debar. Rasa aneh menyergapku. Vaginaku terasa berdenyut-denyut dan ada rasa aneh menyerbu diriku. Tubuhku terasa gerah sekali.

Kusiram seluruh tubuhku dengan air dingin agar rasa gerahku hilang. Apa yg kulakukan ternyata cukup menolong. Tubuhku merasa segar sekali. Lalu kugosok seluruh tubuhku dengan sabun. Rasa aneh itu kembali menyerang diriku, apalagi saat aku menyabuni daerah selangkanganku yg baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Aku merasa ada dorongan birahi yg begitu kencang. Aku tdk tahu mengapa ini terjadi. Tiba-tiba anganku melayg pada apa yg kulihat beberapa hari yg lalu saat Mbak Frida dan Pakdhe Marto bergumul di kamarku.

Cepat-cepat kubuang pikiran itu jauh-jauh dan segera menyelesaikan acara mandi pagiku. Hanya dengan tubuh terbalut handuk, aku lari masuk kamarku. Aku selalu berganti pakaian di kamarku sambil mematut-matut diriku di depan cermin sambil mengamati seluruh tubuhku yg mulai berubah. Bulu-bulu kemaluan sudah mulai tumbuh di gundukan bukit kemaluanku.

Dadaku yg dulu rata kini mulai tumbuh dengan puting yg sebesar kacang kedelai dengan warna merah muda. Pinggulku mulai tumbuh membesar. Kata orang aku seksi dan menarik. Apalagi tinggi badanku sudah mencapai 160 cm. Aku sendiri selalu betah berlama-lama di depan cermin dengan melenggak-lenggokkan tubuhku memandang dari segala sisi dan mengagumi tubuhku. Aku sangat bangga dengan tubuhku.

Baru saja aku mengunci pintu kamarku aku dikejutkan dengan pelukan tangan yg kokoh menyergapku. Aku tdk sempat menjerit karena tiba-tiba sosok yg memelukku langsung membekap mulutku dengan tangannya yg kokoh. Belum hilang terkejutku, handuk yg melilit tubuhku ditarik seseorang dan jatuh teronggok ke lantai. Aku benar-benar bugil tanpa sehelai kainpun menutupi tubuhku.

Kembali rasa aneh yg menyerangku semakin menggelora. Ada dorongan hasrat yg menggebu-gebu dalam diriku. Aku tak mampu meronta dan menjerit! Tangan yg kokoh dan berbulu tetap membekap mulutku sementara tangan satu lagi memeluk tubuh telanjangku. Mataku semakin nanar menerima perlakuan seperti itu. Apalagi kurasakan sentuhan kulit tubuh telanjang menempel hangat di punggungku. Pantatku yg telanjang terasa menekan suatu benda panjang melingkar dan keras di balik kain tipis.

Sumber