Cerita Seks Kenangan Musim Dingin – Si Kecil baru saja terlelap di ranjang kecilnya setelah lelah menangisi ibunya yg absen. Kasihan sekali anak itu, buah hatiku, kembaranku sewaktu aku balita dulu. Baru umur 2 tahun tetapi sudah mengerti arti kasih sayang seorang ibu. Dia begitu menginginkan ibunya, bagi dia ibu merupakan segalanya.

3 hari ini sungguh-sungguh sulit dilewati. Bukan hanya karena si Kecil atau urusan tetek bengek rumah tangga saja, tapi terutama hatiku yg hancur terluka dan amarahku yg kadang masih meluap. Aku mengakui bahwa aku memang terlalu sibuk dan kurang memerhatikan kebutuhan biologis Diana (dan emotional khususnya).

Berkali-kali aku dapatkan signal itu dari Diana, baik secara verbal atau dari tingkah laku. Biasanya ia menjadi sensitif kalau libidonya tak terlampiaskan. Selama ini aku tdk menganggap hal ini serius, maka tdk ambil action. Kupikir, seharusnya dia memahami kesibukan karirku sebagai eksekutif muda, sekaligus stresnya.

Kupandangi telapak tangan kananku. Inilah bagian yg terakhir menyentuh Diana. Hmm, bukan menyentuh, sebetulnya menyakitinya. Aku tampar pipinya malam itu. Masih kuingat betapa merah pipinya yg mulus itu setelah kusakiti. Apa boleh buat.. aku memang murka sekali saat itu.

Please forgive me Diana.. Dengan penuh sesal, kukecup gaun tidur satin “Victoria Secret” warna ungu yg kubeli di hari ulang tahunnya. Tercium aroma tubuhnya di sana. Teringat begitu halus kulitnya yg putih, kontras dengan warna fabric. Terbayg lekukan tubuhnya yg sempurna namun jarang kusentuh. Terkenang pula saat-saat dia membuka bungkusan hadiahku dan sinar bahagia terpancar di matanya ketika mendapati sepotong outfit itu. Dia memakai hadiahku di malam ulang tahunnya.. dan malam itu kami bercinta sepanjang malam. Ah, rasanya sudah lama sekali..

3 malam yg lalu, hampir merupakan rutinitas, aku masuk kamar menyusul istriku yg tengah berbaring di ranjang. Aku cium pipinya dan kukatakan

“I love you,” lalu jatuh tertidur di sampingnya.

Tdk biasanya, di lelapnya malam aku terbangun untuk ke WC. Diana tdk di sisiku. Mungkin di kamar si Kecil atau, hmm.. sedang menyikat lantai dapur? Pernah aku terjaga oleh suara “sek esek esek” Diana menyikati lantai kamar mandi di tengah malam (sekarang baru aku nangkap kenapa dia berbuat begitu).

So, aku keluar untuk memeriksa. Di kamarnya, kudapati hanya anakku sedang tidur dengan nyamannya. Kucari istriku sampai akhirnya terdengar suara sayup-sayup berasal dari garasi mobil. Dengan siapa Diana berbicara malam-malam begini? Aku angkat pesawat telepon dengan perasaan sedikit curiga. Ternyata dia tdk menggunakan telepon. Firasat buruk mulai datang, sedang apa pula dia di garasi ribut-ribut pada waktu begini? Akhirnya aku menguping.

Tdk jelas karena bunyi heating system yg menyala, tapi kudengar suara Diana menjerit-jerit dalam kenikmatan sambil meneriakkan nama seorang lelaki. Seluruh tubuhku menjadi lemas sekali. Aku tak berani menebak apa yg sedang dia lakukan di sana, apalagi untuk memergoki dia bermain cinta dengan lelaki lain. No matter what.. lebih baik tdk menangkap basah orang bersenggama.. no matter who it is– pernah kupergoki adikku bercinta dan yes.. you guessed it! baygan itu tak pernah hilang sampai sekarang.

Sumber