Cerita Seks Noda Kembang Desa – Khodijah, demikianlah nama gadis itu, berparas sangat cantik dibalik kerudung putih yang selalu dikenakannya setiap kali keluar rumah ataupun berpergian. Tak heran semua lelaki menjulukinya si bunga desa, sebab postur tubuhnya ramping namun padat berisi diusianya yang masih sangat muda belia ini, delapan belas tahun. Wajah manisnya begitu sedap dipandang mata dari sisi manapun ia dilihat serta memiliki bola mata yang akan membuat seluruh pria terpana serta luluh oleh pesona kewanitaannya, apalagi ia berhidung sangat mancung dan bangir sekali, bibirnya mungil kemerahan dan selalu tersipu malu tatkala berpapasan mata dengan lelaki.

Namun tidak untuk saat ini, sebab mata indah yang selalu mengukir bentuk wajahnya dengan alis menawan yang hitam lebat kini tampak mendung saat harus merelakan kepergian kekasihnya, Zulkarnaen. Terpaku dalam keheningan dan bibir kelu kedua manusia ini hanyut dalam pikiran masing-masing di hamparan lepas pantai pada pesisir desa mereka yang menyimpan banyak kenangan masa kecil mereka.

“Berjanjilah untuk selalu menungguku, Khodijah..”,suara Zulkarnaen pun akhirnya keluar disaat-saat terakhir kebersamaan mereka, meskipun terdengar berat dan sedikit parau, ada nada takut kehilangan disana. Dipegangnya kedua jari jemari gadis itu dimana masih melekat cincin emas di jari manis Khodijah.

“Mas..”, Khodijah tercengang, ada rasa haru dan gembira disana tak terkatakan sudah, janji Zulkarnaen memang telah dibuktikan dengan ikatan pertunangan mereka seminggu yang lalu dan cincin itu akan selalu dikenakannya dalam penantian panjang.

“Aku pergi dirantau takkan lama, percayalah sayang.. setelah aku datang kembali nanti, aku akan langsung melamarmu..akan kubawa uang yang banyak untuk mengawini dan membahagiakanmu Khodijah..”, Dipeluknya gadis itu dengan dekapan penuh akan kerinduan yang dalam. Khodijah menengadahkan wajahnya dalam pelukan Zulkarnaen memandang wajah kekasih hatinya penuh kegalauan. Ahh.. mata gadis itu semakin memberatkan langkah dan niatnya.

“Berhati-hatilah diperjalanan mas, aku akan selalu menanti kehadiranmu kembali..”, tak kuasa Khodijah membendung bola matanya dari luapan air kesedihannya yang tertumpah membasahi kedua pipi dibalik kerudung putihnya itu. Zulkarnaen diusianya yang ke dua puluh tiga ini memanglah sosok lelaki dambaannya sejak kecil, berwajah ganteng dan menjerat seluruh hatinya sudah. Linangan air mata itu segera dihapus oleh jemari sang kekasih.

“Tentu dindaku sayang..”, sahut Zulkarnaen dan lima menit mereka berangkulan sebelum kapal layar yang akan ditumpangi kekasihnya segera berangkat. Dalam belaian angin laut yang mengibaskan kerudung putih dan pakaiannya gadis itu melambaikan tangannya kearah perahu dimana kekasihnya berada, menjauh dan semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Tanpa disadari oleh gadis itu sepasang mata tampak mengawasi tubuhnya dari jauh sambil tersenyum menyeringai penuh maksud yang hanya diketahui oleh si empunya si sosok ini.

Khodijah sepeninggal Zulkarnaen tinggal bersama kakek Zulkarnaen, seperti Khodijah yang sebatang kara ini tak tau dimana ayah dan ibu serta kakek neneknya berada. Ia hanya anak pungut yang diangkat oleh kakek Zulkarnaen sejak kecil, orangtua Zulkarnaen juga telah tiada pula karena sakit oleh wabah pes yang pernah melanda desa itu sebelumnya. Namun sebulan kemudian kakek Zulkarnaen menderita sakit keras pula dan meninggal, hal ini membuat Khodijah sangat bersedih hati. Semua kejadian itu tak luput dari pengawasan sesosok lelaki yang selalu mengintai gerak-gerik gadis itu.

Sumber