Cerita Sex Tante Githa Haus Sex - Ibuku ini anak paling tua dari saudaranya, adik adiknya ada empat perempuan seluruh,adeknya ibuku yg paling mungil asal dulu ikut dengan ibuku namanya Tante Githa, kira kira aku dan tante Githa hanya terpaut 7 tahun, dulu pada usianya yg masih Sekolah Menengah Pertama tante Githa tidak mau meneruskan ke Sekolah Menengan Atas tetapi malah ikut kakanya yang di Jakarta.

paras Tante Githa sangat menarik, bulat, cukup indah, kulit sawo matang, setinggi seperti anak wanita usia 14 tahun, tetapi pada pandanganku tampaknya tubuh Tante Githa lebih montok dibanding teman seusianya yg lain.

Menjadi gadis remaja yang sedang mekar tubuhnya, tanteku ini jua relatif sedikit keletah. Dia suka berlama-lama Bila sedang merias dirinya di depan cermin, aku sering menggodanya serta Tante Githa selalu tertawa saja.

Saya sendiri anak tertua asal 3 bersaudara (semua saudaraku wanita). Rumahku saat itu hanya memiliki 3 kamar, satu kamar orang tuaku serta dua buat anak anak. Kedua adikku tidur pada satu kamar, serta aku menempati kamar lain yg lebih mungil.

Semenjak Tante Githa tinggal dengan kami, tante tidur menggunakan kedua adikku ini. Pergaulan Tante Githa dengan tetangga sekitar jua sangat baik, dia cepat akrab dengan anak remaja sebayanya, antara lain tetangga kami Suli.

Usianya tidak jauh beda dengan tanteku kira-kira 15 tahun, akan tetapi tidak selaras menggunakan tanteku, Suli berkulit putih higienis serta jauh lebih tinggi (kata orang bongsor), wajahnya ayu, rambutnya selalu disisir poni, murah senyum serta baik hati. Ia sangat baik terhadap semua saudaraku terlebih terhadapku, mungkin karena beliau anak tunggal serta sangat mendambakan seorang saudara termuda pria seperti yg sering dikatakannya kepadaku.

Mbak Suli seringkali bermain di tempat tinggal kami, bahkan beberapa kali ikut tidur di rumah kami Jika hari libur, oh ya Mbak Suli ini kelas dua SMEA. Lebih kurang 2 bulan sehabis Tante Githa tinggal di rumahku, suatu waktu ibu serta almarhum ayahku wajib meninggalkan kami karena suatu urusan pada Jawa Tengah (almarhum berasal dari sana) pungkasnya urusan warisan atau apalah ketika itu aku tidak begitu paham.

Adikku yang kecil (2,5 thn.) diajak serta, sedangkan kami dititipkan di tetangga sebelah tempat tinggal (kami saling dekat dengan tetangga kiri-kanan) dan tentu saja pada Tante Githa.
Tante Githa orangnya sangat telaten mengurus para keponakan, mungkin sebab pada desa dulu memang tanteku itu orang yang “prigel” dalam pekerjaan tempat tinggal tangga. Setiap hari Tante Githa beserta adikku selalu mengantarku sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal .

Sumber