Cerita Ngentot Nekatnya Haryo Nikmatnya Santi Sudah 3 hari ini Santi tidak merasakan sodokan batang kemaluan lelaki di lubang memeknya, terakhir ia merasakan sodokan-sodokan kemaluan lelaki adalah saat Pono & Yono menggenjot lubang memek dan anusnya, serta diakhiri dengan sodokan k0ntolnya Hendro suaminya sendiri di kamar mandi, dan yg terakhir sodokan dari suaminya itu tidak memberikan kenikmatan bagi dia,

seperti biasanya suaminya Hendro hanya bertahan sekitar 2 menitan saat mengaduk-aduk memeknya, Santi merasakan memeknya gatal ingin segera merasakan sodokan-sodokan kemaluan lelaki, tapi ia tidak berani nekat lagi untuk melakukannya selama keberadaan suaminya di Jakarta, suaminya hamper 2 kali memergoki ia bersetubuh jika saja suaminya pulang lebih awal lagi, karena itu Santi tidak mau ambil resiko melakukan hubungan badan selama suaminya di Jakarta, karena ia tahu keberuntungan tidak selalu berpihak kepadanya.

Hari ini Yono tidak masuk karena sakit, sementara Santi sendiri ingin pergi belanja untuk menghilangkan stressnya, setelah berpikir panjang lebar, ia menlpon suaminya memberitahukan keinginannya untuk pergi berbelanja dan ia juga memberitahukan kepada suaminya bahwa supirnya hari ini tidak masuk, Hendro memberikan tawaran untuk memakai Haryo, karena suaminya membutuhkan Haryo saat pulang kantor saja, dan Santipun menyetujui usulan suaminya, setelah itu ia bergegas menuju kamar tidurnya untuk berganti pakaian sambil menunggu kedatangan Haryo.

Kira-kira 30 menit kemudian Haryo pun tiba dirumah Hendro, ia melihat nyonya majikannya sedang duduk di teras, saat itu Santi yg mengenakan rok terusan berwarna biru muda dengan bentuk V dibagian depan yg cukup sangat terbuka sehingga menampakkan belahan payudaranya yg putih, serta bagian punggung yg sangat terbuka sehingga kemulusan punggungnya terpampang seolah menantang untuk dielus,

dan di bagian punggungnya itu terlihat tidak ada ikatan BH, dan memang Santi saat itu tidak mengenakan BH, ia hanya mengandalkan bajunya yg agak tebal dan sedikit berkerut sehingga menutupi kedua putingnya agar tidak menonjol, bagian bawahnyapun cukup pendek dan longgar kira-kira sedikit diatas tengah pahanya, sehingga kalau misalnya Santi membungkuk untuk mengambil sesuatu akan nampak CDnya bagi orang yg berada di belakangnya.

Mata Haryo hampir tidak berkedip melihat penampilan nyonya majikannya ini, keseksian Santi membuat birahinya bangkit, pikiran kotornya mulai menjalari otaknya, hatinya membatin kalau saja ia dapat menikmati tubuh nyonyanya ini, sungguh beruntungnya ia.

Haryopun turun untuk membukakan pintu bagi nyonyanya ini, dan harum tubuh Santi yg tercium olehnya membuat birahinya semakin meninggi, matanyapun mencoba untuk mencuri-curi lihat kearah payudara Santi yg hanya ditutupi oleh bajunya dan ia melihat belahan payudara Santi yg montok dan mengkal serta putih mulus,

dan saat Santi sedikit membungkukkan tubuhnya pada waktu naik keatas mobil, Haryo melihat payudara Santi dari balik bajunya yg terbuka itu, matanya melotot tanpa ia sadari, ia melihat payudara Santi seolah tidak ada yg menahan menggantung dengan indahnya, hanya saying putingnya tidak nampak karena masih terhalang oleh baju dan ia melihatnya juga dari samping, Haryopun menelan ludah, birahinya semakin memuncak.

Dalam perjalanan kearah Mall yg disebutkan oleh Santi, beberapa kali Haryo mencuri pandang lewat spion, seolah menanti keajaiban mendapatkan penampakan yg lebih dari tadi yg ia sempat lihat, tapi harapan tinggal harapan doanya tidak terkabul karena sampai di depan Mall, Haryo tidak mendapatkan penampakan yg indah dan seksi yg dapat membangkitkan gairah lelakinya.

Sumber