Cerita Ngentot Nimatnya Ngentot Janda Kembang – Aku memandang seluruh tubuhku yang bugil di cermin, mulai dari leherku yang jenjang, buah dadaku yang besar dan kencang (36B), indah dengan puting yang masih kemerahan, karena belum ada satu mulut bayi pun yang menyusu di buah dadaku. Apalagi ditunjang dengan kulitku yang halus dan putih mulus, membuat aku makin percaya diri bahwa lelaki manapunakan tertarik denganku. Bulu-bulu hitam lebat yang menghiasi celah di antara pahaku menjuntai melambai tertiup AC di kamarku. Kuputar badanku, kulihat belahan pantatku yang bulat indah dan sangat menawan, kakiku yang panjang teras ideal menopang tinggi tubuhku yang 165 cm.

Tapi semua keindahan itu telah lama tidak tersentuh oleh tangan lelaki, sejak kematian suamiku 1 tahun yang lalu, belum ada satu orang pun yang mampu menggetarkan perasaanku, meskipun banyak lelaki yang mencoba masuk dalam kehidupanku, tapi semuanya secara halus kutepis dengan alasan belum siap. Umurku baru 29 tahun,lumayan muda. Kesendirianku selama ini kuisi dengan kesibukan kerja, saat malam tiba dan gairahku akan seorang lelaki muncul, paling kupeluk guling erat-erat, kubayangkan bahwa yang kupeluk adalah seorang lelaki gagah perkasa, kugesekan klitorisku hingga aku orgasme. Sebenarnya aku ingin mencoba penis-penisan, tapi aku takut kemaluanku lecet dan daya elastisnya melemah.

“Tok, tok…” suara pintu kamarku terdengar diketuk membuyarkan lamunanku.
“Siapa?” sahutku.
“Saya, Nyah…” terdengar suara pembantuku di balik pintu.
“Ada apa, Bi?
“Ada tamu mau ketemu Nyonya…”
“Dari mana?” aku bertanya, sebab aku merasa tidak ada janji bertemu dengan siapapun.
“Katanya dari perusahaan asuransi, udah janji ingin bertemu Nyonya.”

Oh ya aku baru ingat, bahwa aku meminta perusahan asuransi datang ke rumahku pada hari Sabtu ini, saat aku libur kerja, karena aku ingin merevisi asuransi atas rumah pribadiku yang telah jatuh tempo. “Suruh dia masuk dan tunggu di ruang tamu, Bi!” bergegas aku mengenakan pakaianku, hanya daster terusan tanpa bra dan celana dalam, karena aku tak mau tamuku menunggu lama, wajahku pun hanya sedikit kuoles bedak. Setelah aku rasa rapi, bergegas aku menemuinya.

“Selamat siang, Bu!” sapaan hormat menyambutku saat aku tiba di ruang tamu.
“Selamat siang,” aku membalas salamnya.
“Perkenalkan, Bu! saya Dimas marketing executive di perusahaan, tangannya mengundangku bersalaman.

Aku menyambut uluran tangannya, dan mempersilakannya duduk. Sejenak aku perhatikan, umurnya sekitar 26 tahunan, tapi yang membuatku agak tertarik tadi saat posisi berdiri bersalaman, aku sempat mengukur tinggi tubuhku hanya sebatas lehernya, aku perkirakan tingginya 180cm-an, aku agak berkesan apalagi penampilannya bersih dengan kumis tipis menghiasi bibirnya, wajahnya sih memang biasa saja.

Sumber