Cerita Dewasa Terpesona dengan Mbak Yuli – Sudah sangat membosankan aku sudah lama tinggal Jakarta walaupun aku anak rantau aku punya saudara di sini, tapi semua saudaraku sibuk dengan pekerjaannya hanya satu yang mau menemaniku yaitu mas Angga dia adalah sepupuku, aku menelpon dia dan kami bercanda ria lewat telepon, mas Angga bekerja di sebuah perusahaan minyak kebetulan dia besok ditugaskan untuk mengantar logistic di tengah laut dan mengajak saya untuk menemaninya.

Dan dia memintaku untuk menemani keluarganya kalau aku tidak keberatan. Sebenernya aku males banget, karena rumah Mas Angga cukup jauh dari tempat kostku aku di bilangan Ciledug, sedangkan Mas Angga di Bekasi. Tapi entah mengapa aku mengiyakan saja permintaannya, karena kupikir-pikir sekalian silaturahmi. Maklum, lama sekali tidak jumpa.

Hari Jumat minggu berikutnya aku ditelepon Mas Angga untuk memastikan bahwa aku jadi menginap di rumahnya. Sebab kata Mas Angga istrinya, mbak Yuli, senang kalau aku mau datang. Hitung-hitung buat teman ngobrol dan teman main anak-anaknya.

Mereka berdua sudah punya anak laki-laki dua orang. Yang sulung kelas 4 SD, dan yang bungsu kelas 1 SD. Usia Mas Angga 40 tahun dan mbak Yuli 38 tahun. Aku sendiri 30 tahun. Jadi tidak beda jauh amat dengan mereka.

Apalagi kata Mbak Yuli, aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumahnya. Terutama semenjak aku bekerja di Jakarta ini Ya, tiga tahun lebih aku tidak berjumpa mereka. Paling-paling cuma lewat telepon

Setelah makan siang, aku telepon mbak Yuli, janjian pulang bareng Kami janjian di stasiun, karena mbak Yuli biasa pulang naik kereta. “kalau naik bis macet banget. Lagian sampe rumahnya terlalu malem”, begitu alasan mbak Yuli.

Dan jam 17.00 aku bertemu mbak Yuli di stasiun. Tak lama, kereta yang ditunggu pun datang. Cukup penuh, tapi aku dan mbak masih bisa berdiri dengan nyaman. Kamipun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri kanan.

Kunjungi Forum Bokep, Forum Dewasa : Toket Kecil , Lendir Abg

Tapi hal itu ternyata tidak berlangsung lama Lepas stasiun J, kereta benar-benar penuh. Mau tidak mau posisiku bergeser dan berhadapan dengan Mbak Yuli. Inilah yang kutakutkan…! Beberapa kali, karena goyangan kereta, dada montok mbak Yuli menyentuh dadaku.

Ahh…darahku rasanya berdesir, dan mukaku berubah agak pias. Rupanya mbak Yuli melihat perubahanku dan ?ini konyolnya- dia mengubah posisi dengan membelakangiku. Alamaakk.. siksaanku bertambah..! Karena sempitnya ruangan, si “itong”-ku menyentuh pantatnya yang bulat manggairahkan.

Sumber