Cerita Ngentot Menjadi Suami Pinjaman – Peluang sering kali hampir tidak terlihat, ia bisa muncul tiba2 dan menghilang jika tidak teramati. Bentuk peluang juga seingkali tidak jelas, artinya pangkal dan ekornya sangat jauh berbeda.

Mengapa tulisan ini saya buka dengan kalimat seperti itu, karena cerita saya berikut ini sangat berkaitan dengan kalimat pertama di tulisan ini.

Saya tidak ingat hari dan tanggalnya, tetapi saya ingat bahwa hari itu saya melintasi jalan Iskandar Muda, atau lebih dikenal dengan sebutan Arteri Pondok Indah, Jakata. Pagi itu lalulintasnya lebih padat dari hari-hari biasa. Saya merasa begitu, karena setiap hari ini adalah rute menuju kantor saya.

Kira-kira 30 meteran di sebelah kiri depan saya terlihat orang berkerumun, Saya duga ada pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan. Namun tidak terlihat di sekitar situ ada sepeda motor yang tergeletak atau bekas tertabrak . Karena arus maju perlahan, kemudian saya melihat seorang laki-laki duduk tersandar, wajahnya pucat dan sedang dikipasi.

Melihat itu saya langsung meminggirkan mobil dan memarkir di tempat kosong. Segera saya datangi orang yang tersandar pucat tadi. Saya menduga dia terkena serangan jantung.

“Mas taruh pil ini di bawah lidah, jangan ditelan, dan bernafas agak panjang. “ kata saya.

Dia menuruti perintah saya, dan 10 menit kemudian kelihatannya dia agak pulih, lalu duduk sambil bersila. Keringatnya deras bercucuran. Nafasnya masih terengah-engah.

“Mas kondisi begini, tidak boleh mengendarai motor dulu, “ kata saya sambil membantu dia menitipkan sepeda motor di salah satu toko.

Oleh pemiliknya dia mau dititipi motor sementara. Saya tak lupa menanyakan nama dan no teleponnya lalu saya masukkan ke HP saya.

“Mas mari saya bantu untuk ke rumah sakit terdekat, si mas ini dalam bahaya besar, bisa-bisa game kalau tidak mendapat pertolongan segera.” kata saya.
“Mau dibawa ke rumah sakit mana pak,” kata seorang wanita yang dari tadi tidak terperhatikan saya.
“Mbak ini siapa,” tanya saya.
“Saya istrinya Pak,” katanya.

Sial saya belum terlalu tua malah mungkin sebaya dengan suaminya udah dipanggil pak, mungkin karena pakaian kantoran saya yang rapi dilengkapi dengan jas, jadi dia panggil saya pak mungkin sebagai penghormatan.

Sumber