Cerita Sex Godaan Janda Panas – Namaku Yudha, sungguh pengalamanku kali ini sangat konyol sekali dan sangat tak pernah aku duga dan aku rencanakan. Semua seakan terjadi karena waktu yang tepat dan mungkin karena keberuntungan yang berpihak kepadaku karena banyak yang mengejarnya namun tak ada satupun yang diterimanya. Sebut saja namnya Cindy. Janda kembang sebelah rumah yang sangat menggoda. Tubuhnya sangat seksi sekali, payudaranya montok, pantatnya yang bahenol, dCindymbah dengan wajahnya yang sangat menggairahkan membuat orang-orang dikomplek tempat tinggalku selalu mengejar-ngejar cintanya. Namun sayang dari semua yang mengejarnya tidak ada yang bisa mendapatkannya.

Karena umurku yang masih muda, aku memanggilnya tante Cindy. Memang tante Cindy ini jika
dirumah dia selalu berpakaian sangat menarik. Dengan kaos strit dan rok pendek membuat
semua mata lelaki melihatnya. Meski sudah mempunyai satu anak, tubuh tante Cindy masih
sangat bahenol dan terawatt dengan kulitnya yang putih bersih. Tante Cindy mempunyai usaha
warung kecil-kecilan dan menyediakan kopi juga. Sehingga setiap malam warungnya selalu
dipenuhi oleh orang-orang tua yang betah memandangi tubuh seksi tante Cindy itu. Kalau aku
pas beli rokok diwarung tante Cindy, aku pun juga melirik tubuh bahenol tante Cindy,
sungguh menggoda sekali.
Hingga akhirnya suatu malam hujan turun sangat lebat sekali. Aku saat itu sedang santai
dikamar sambil dengerin music dan bermain game, teman game ku hanyalah rokok. Ketika aku
mengambil bungkus rokokku, ternyata isi rokokku sudah habis lalu dengan cepat aku melihat
jam. Dan waktu itu waktu menunjukkan jam 9 malam hujanpun sudah mukai reda, segera aku
mengambil uang dan segera berlari menuju ke warung tante Cindy. Setelah sampai diwrung
tante Cindy, terlihat warungnya sangat sepi sekali gak seperti biasanya yang sangat ramai
dengan pembeli. Mungkin karena hujan tadi jadi para mata keranjang yang biasa nongkrong di
warung Cindy pada males keluar. Dan aku panggil-panggil tante Cindy.
“Tante.., Tante.., Dik Krisna.., Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi
seperti ini, kali saja lupa nutup warung.
Ah kucoba panggil sekali lagi, “Permisi.., Tante Cindy?”.
“Oh ya.., tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.

Yang keluar ternyata Tante Cindy, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, jalan
tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya baru selesai
mandi juga habis keramas.

“Oh.., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho
Dik Krisna mana?
“O.., Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas Yudha
Tante pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”.

“Tidak apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus
handuk.., putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat sebagian besar
tubuh Tante Cindy, soalnya biasanya Tante Cindy selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku
baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Cindy tidak
memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

Sumber