Cerita Seks Ngesex Dengan Rasa Penuh Gembira – Tahun baru adalah suatu hal yang selalu dirayakan oleh hampir semua kantor, mengundang karyawan, relasi, client maupun vendor, semua berbaur menjadi satu dalam suasana yang penuh ceria. Agak berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini lebih spesial karena suamiku ditunjuk sebagai ketua panitia, meski segalanya sudah dilaksanakan oleh panitia lainnya tapi sebagai orang yang paling bertanggung jawab tentunya tidak bisa tinggal diam, untuk itu kami putuskan check in di hotel tempat acara, supaya lebih mudah koordinasi.

Sepanjang siang, sejak check in aku lebih sering sendirian di kamar ditinggal suamiku yang sIbuk dengan persiapan- persiapan pesta. Menjelang petang suamiku baru kembali ke kamar, terlihat wajahnya menunjukkan kelelahan walaupun dia tidak kerja secara langsung, hanya mengawasi persiapan. KuhIbur dia dengan memijat bahu dan kakinya, dengan sedikit sentuhan erotis kurasakan ketegangannya mencair berganti dengan ketegangan yang lain.

“Jangan Sayang, kita nggak ada waktu, bentar lagi acara dimulai”, suamiku menolak halus.

Agak kecewa juga aku menerima penolakan suamiku, padahal dia sudah hampir telanjang dan siap untuk melanjutkan permainan. Kupandangi punggunggnya hingga menghilang di kamar mandi, terpaksa kutelan saja kekecewaan ini.

“nanti aja, dia masih capek kali”, pikirku menghIbur diri.

Kami mandi bersama, di bawah guyuran air shower yang hangat aku masih berusaha memancing birahinya, tapi tak berhasil, sepertinya dia terlalu khawatir dengan persiapan yang ada, meski ini bukan pertama kalinya dia sebagai ketua panitia acara kantor seperti ini tapi entahlah kenapa kali ini begitu tegang. Jarum jam masih menunjukkan pukul 19:00, masih ada waktu untuk melakukan dengan cepat sebenarnya, karena acara baru akan dimulai pukul 8 malam, berarti paling tidak masih ada waktu satu jam, akhirnya kuputuskan untuk “memaksa” suamiku melakukannya.

Kukenakan gaun malam merah panjang yang anggun nan sexy, belahan kaki hingga paha, punggung yang cukup terbuka sehingga tidak memungkinkan memakai bra, dada berpotongan rendah dengan seutas tali yang menggantung di leher menahan gaunku tetap menempel di tubuhku, selendang merah hati menutupi punggung dan sebagian tubuhku, tapi tak menghilangkan kesan sexy dan anggunnnya penampilanku.

“Pa, masih ada waktu sebentar kan”, tanyaku dengan langsung berjongkok di depannya dan membuka resliting celananya.

Sumber