Cerita Sex Hasrat Sang Pemandu - Hari ini adalah malam minggu terakhir aku di Jakarta. Jam dinding sudah menunjukkan 21.20. Dengan tidak sabaran aku berjalan mondar-mandir di ruang tamu kost. Aku sudah janjian dengan ketujuh temanku untuk pergi ke karaoke malam sebagai acara pesta sex bujang. Dengan kaos ketat Billabong warna hitam dan jeans biru aku terlihat sangat rapi dan menarik, apalagi bau parfum aku begitu semerbak.

“biiimm… biiimmmmm…” terdengar klakson mobil dan disusul teriakan,
“Gussss… Ayo…” Dari suaranya aku tahu itu adalah Utay, Yang masih Perjaka.

Dengan buru-buru aku berlari ke kamar untuk mengambil HP dan kunci kamar aku. Sesudah itu aku mengunci pintu kamar dan bergegas keluar. Di halaman kost aku melihat dua mobil, satu Toyota Corola warna putih yang merupakan milik si Angga dan satu Suzuki Esteem milik si Pusink. Aku melihat si mobilnya si Pusink sudah berisi empat orang, jadi aku menuju mobilnya si Angga.

“Wow… cakep nih…. kayaknya ini malam yang tidak terlupakan…” komentar si Okky yang duduk di samping Angga yang mengemudikan mobil ketika aku masuk. Perkataan tanpa ia sadari akan menjadi kenyataan.

Kemudian meluncurlah kedua mobil tersebut ke daerah Mangga Besar. Berdasarkan petunjuk Angga dan ramalan aku (hihi…) kami sepakat untuk pergi ke karaoke di hotel transit Mangga Besar (aku lupa Mangga Besar berapa, tetapi kalau dari Mangga Besar mengarah ke Gunung Sahari, belok ke sebelah kanan sekitar 50 meter). Dalam perjalanan kami bercanda apa saja, dari pacar baru Utay yang sangat montok, petualangan baru si Okky, sampai ke tamu Jepangnya si Angga yang bernafsu dengan wanita Indonesia.

Tanpa terasa sampailah kami di depan hotel tersebut. Terlihat keempat teman aku yang lainnya sudah menunggu. Setelah memarkir mobil, Angga memimpin kami ke dalam karena memang dia yang lebih sering ke sini. kami berjalan melewati lobby hotel, terlihat beberapa cewek cantik yang berpakaian sangat sexy.
“Wah… dedek gua udah berontak nih…” kataku yang dilanjuti dengan tertawa teman-teman yang lain. Memang aku terkenal dengan nafsu aku yang besar, prinsip aku ya mirip semboyannya lampu Philips Tegang Terus.
Di ujung lorong tersebut, Angga meminta kami menunggu, dia berbelok ke kanan untuk mencari manager karaoke untuk mem-booking kamar. Iseng-iseng aku berjalan ke lorong sebelah kiri. Di ruangan pertama terdapat cafetaria atau semacam restoran. Di dalamnya, amboi… banyak cewek cantik yang berpakaian seksi. Benar-benar cantik. Aku mulai menghitung satu, dua, tiga… setidaknya ada 13 cewek yang cakepnya selangit.
“Cakep ya?” tanya si Okky.
“Kalau loe mau disini juga ada cewek yang langsung bisa dipakai, harganya 250 ribu berikut kamarnya,” seperti germo saja itu anak.
“Nggak mau ah…” jawab aku.
Aku memang tidak suka membayar untuk urusan bercinta, bukannya pelit tetapi aku tidak mau bercinta dengan sembarang perempuan. Harus perempuan yang aku cinta dan Melisexya juga harus cinta dengan aku. Dengan begitu pasti lebih nikmat kan? Asyiknya aku gampang sekali jatuh cinta
“Come On guyss , ikut gua… gua udah booking kamar yang cukup untuk 20 orang,” seru si Angga.
Terpaksa deh aku merubah perhatian aku dari belasan wanita di cafetaria tersebut. Seperti anak ayam, kami mengikuti Angga ke kamar karaoke. Ruangan karaoke tersebut cukup luas, terdapat sofa yang besar dan di dekat pintu masuk ruangan tersebut aku melihat ada toilet yang cukup bonafide. Asyik juga.

Sumber