Cerita Sex Mulai Dari Mana Ya? - Well, darimana dulu ya, aku mulai ceritanya. Hmmm, baiklah, mungkin dari perkenalan dulu, namaku Vera, just a simple name, right? Nothing special ‘bout me. Aku hanya seorang cewek kuliahan yang pemalu, terlalu pemalu malah. Semester ini terlalu sepi bagiku,

“Hufftttt…” aku menghela napas berat sambil menuju tempatku biasa bersemedi, yup! Dimana lagi kalau bukan di perpustakaan.

Semua cewek berkacamata sepertiku memang hidup di perpustakaan dan bukan kehidupan malam yang glamour.
Aku berjalan sambil membawa setumpuk buku tebal tentang diktat kedokteran. Aku sudah membuka pintu perpustakaan perlahan hingga kudengar sebuah suara yang tertahan. Suara antara kesakitan dan… keenakan? Aku berjalan menuju asal suara. Di ujung pojok perpustakaan memang tempat yang gelap, aku tidak akan berani kesana karena aku penakut. Aku melihat kanan-kiri, tidak ada dosen ataupun penjaga perpustakaan saat ini. Aku melirik jam tangan, Oh, pantas, sekarang’kan waktunya istirahat.
Aku berdiri dibalik lemari tinggi yang penuh buku, aku berusaha mengintip dari balik celah lemari. 2 sosok bayangan sedang melakukan sesuatu dan suara-suara itu semakin liar.

Aku membersihkan kacamataku, berusaha melihat lebih jelas lagi. Dan aku terkesiap saat melihat seorang cewek menghisap benda panjang dan besar milik seorang cowok. Aku berusaha menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun, aku tidak mau sampai ketahuan.
Cewek itu kukenal dengan kak Leny, sedangkan yang cowok adalah kak Ryan. Sial, cowok itu’kan pacarnya temanku, ternyata cowok itu selingkuh, harus kurekam dan kujadikan bukti. Aku merogoh ponselku dan mulai ku rekam semua adegan mesum itu.
“Aaahhh… Hsssssss… Enak Len.. kamu hebat sayang..” Kak Ryan mulai berbicara tidak karuan, sedangkan kak Leny asyik menjilat ujung penis kak Ryan.
“Hmmpppphh… penis kamu enak, sayang.. hmppphhhh… “ mulut kak Leny penuh dengan penis cowok itu, aku yang membayangkan saja seperti ingin muntah.
Apa sih enaknya benda besar dan panjang itu?

Kak Ryan memaju-mundurkan penis besar miliknya di mulut kak Leny, sesekali kak Leny tersedak oleh benda panjang itu sedangkan tangan kak Ryan menggerayangi tubuh Kak Leny yang terbalut kaos warna ungu.

Disingkapnya kaos ungu kak Leny sehingga bra yang menutupi dada ranum itu terlihat jelas. Aku meneguk liur dengan susah payah.

“Nakal ya… kamu mau minum susu sayang?” Tanya kak Leny dengan wajah mesumnya, dan dijawab dengan anggukan kepala kak Ryan,
“Iya.. aku mau nete..”
Kak Leny terkikik geli, lalu menyingkap bra putihnya, dan puting yang keras itu mengacung menantang ke wajah kak Ryan. Dengan kelaparan, kak Ryan menyantap puting itu tanpa permisi. Menghisapnya, menggigitnya, menjilat-jilatnya, bahkan sesekali ditarik karena saking gemasnya.
“Ahhhkk.. jangan ditarik sayang.. uuhhhh.. sakiit… hhhssss… oohhh..” kak Leny menikmati sentuhan kasar kak Ryan yang meremas-remas dadanya.
“Aku suka… hmmphh… enak… nenen… mmhmmpphh..” kak Ryan makin tambah meracau tidak jelas, dan tangannya mulai melepas celana jins kak Leny.
“Jangan dilepas sayang, nanti ada yang lihat.”
“Biarin, Aku gak peduli.” Kak Ryan langsung menarik paksa celana jins dan celana dalam kak Leny, lalu membuka lebar paha cewek cantik itu.
“Vagina yang cantik… hmmphh…” kak Ryan langsung menjilat vagina kak Leny, membuat suara berdecak basah dari vagina itu.
“Ahhhh… enak…. Nghhhh… god.. oohhhh…” kak Leny bergerak dengan sensual. Aku harus menahan gemetar dan wajah merahku ketika merekam semua adegan itu.
Kak Ryan menepuk-nepukkan penisnya ke lubang kak Leny, seperti memberi salam terlebih dahulu.
“Leny sayang, bilang ‘halo sama Mr. P…” kata kak Ryan sambil tetap menepuk vagina kak Leny dengan penis besarnya.

Sumber