Cerita Sex Berbagi Kenikmatan - Aku kembali ke ruang keluarga untuk pamit dan minta dipanggilkan taxi atau ikut salah satu dari mereka saat pulang nanti, karena jarang sekali taxi yang lewat daerah ini.
“Ly, kami sepakat lanjut, gimana?” tanya salah seorang dari mereka
“Aku sih terserah saja, tapi sama siapa?” tanyaku, mereka saling berpandangan seakan tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dan tak ada yang mengalah untuk memberikan kesempatan ini pada temannya.

Setelah berunding beberapa lama, akhirnya aku usulkan untuk diadakan lelang, dijadiken obyek pelelangan aku sih oke saja. Penawar tertinggi akan mendapatkan tubuhku, diluar urusan pembayaran dengan GM, jadi yang dilelang adalah tips yang akan aku terima.

Serempak mereka menulis angka angka di kertas tisu dan menyerahkan padaku sebagai juri. Satu persatu kubuka, kuumumkan nama dan jumlah yang ditulis, ternyata angka tertinggi ada 2 orang, masing masing menulis 2,5 juta, yaitu Dikky dan Billy. Aku tak tahu bagaimana harus menentukan pemenang, bagiku bukan orangnya yang harus kupilih tapi angkanya, toh melayani siapa saja sudah biasa bagiku.
Apakah diundi pakai coin atau suit atau lelang lanjutan, aku benar benar nggak tahu, tapi aku tahu ada potensi untuk mendapatkan angka yang lebih besar dari yang tertulis namun dengan cara yang lebih halus dan tidak terlihat terlalu mata duitan.

Kuminta Dikky dan Billy mendekatiku.
“Sorry lainnya, sebagai juri aku harus menentukan siapa pemenangnya,” kataku pada yang lain
Begitu mereka mendekat, kupeluk mereka berdua dan kuremas selangkangannya seakan menguji seberapa besar yang mereka punya, ini hanyalah untuk mengalihkan perhatian yang lain dan juga untuk membuat kedua orang ini terhanyut dalam skenarioku.

“Aku tahu kamu menikmati saat aku dikeroyok di sofa tadi,” bisikku sambil menatap mata mereka satu persatu meski aku tak yakin betul mereka menikmatinya.

“Kalau masing mau menggandakan apa yang kamu tulis tadi, aku mau menemani kalian berdua bersamaan, pasti jauh lebih heboh dari yang tadi, tapi tidak ditempat ini, kita bertiga aja.. kalau nggak mau aku tawarkan pada yang lain,” bisikku, mereka berpandangan, kuremas remas makin kuat kejantanannya dan kutempelkan tubuhku pada mereka seraya menggeser geserkan buah dada, sekedar menggoyahkan logika mereka supaya menuruti usulanku.

Usahaku berhasil, mereka menyetujui tanpa berpikir lebih lama lagi, tentu saja bagi mereka apalah artinya uang sebesar itu ditambah tarif yang harus dia urus dengan si GM, apabila dibandingkan sensasi yang bakal mereka nikmati.
Kutatap mereka bergantian, hanya anggukan yang kuterima sebagai jawabannya.

“Sorry, kami sepakat melanjutkan acara sendiri diluar, kalian nggak keberatan kan?” tanyaku sambil menggandeng Dikky dan Billy keluar tanpa menunggu jawaban dari lainnya, meskipun begitu sempat kudengar teriakan “Huu”, tapi aku tak peduli.
“Fren, bawa mobilku dulu” kata Billy sambil melempar kunci kontak ke arah temannya.
Dengan mengendarai si mata kucing, kami bertiga meluncur meninggalkan kawasan Galaxy menuju hotel terdekat.
“Aku belum pernah main rame rame kayak gini” kata Billy yang sedang nyetir.
“Aku juga, meski pinginnya sih udah lama” timpal Dikky yang duduk dibelakang.
“Emang aku pernah, gara gara kalian tadi aku jadi pingin nyoba” cetusku berbohong.
“Kalo aku nggak suka boleh mundur kan?” tanya Billy lagi.
“Terserah tapi janji tetap janji seperti yang ditulis tadi,” godaku.

Sumber