LiputanDewasa - Sebelumnya perkenalkan, nama saya Arie berusia 30 tahun. Saya sudah menikah dan dikaruniai 2 orang anak. Saya bekerja di sebuah Mall di sebuah kota di Jawa Timur sebagai Manajer Operasional di Game Center yang terletak di dalam Mall tersebut. Pekerjaan saya bisa dibilang sangat baik karena mendapatkan posisi yang baik dan juga penghasilan yang bisa dibilang lebih dari cukup untuk menafkahi keluarga saya. Karena bekerja di Mall, maka sudah pasti kebanyakan karyawan yang ada adalah wanita.
Ada yang SPG dan ada juga yang memang karyawan Mall dan karyawan game center yang memang aku kelola. Buat saya, bekerja di Mall sangat- sangat menyenangkan. Karena setiap hari saya bisa mencuci mata saya dengan melihat berbagai macam wanita cantik di tempat kerja saya.
Cerita ini bermula ketika saat itu saya sedang melakukan training kepada karyawati baru di perusahaan saya. Karyawati yang sedang saya training rencanannya akan diploting di bagian kasir, sebut saja namanya Tia. Tia ini masih sangat muda dan berumur 21 tahun. Satu hal yang sangat saya suka dari Tia, adalah bentuk tubuhnya yang sangat aduhai. Tia memiliki pinggul yang aduhai dan bokong yang lumayan indah. Selain itu, kulitnya yang putih dan juga wajahnya yang manis dengan potongan rambut poni membuatnya sangat mirip dengan Momo vokalis Geisha walau buah dadanya tidak terlalu besar.
Hari itu sebenarnya hampir sama ketika aku melakukan training kepada Tia di hari- hari kemarin. Namun, entah mengapa hari itu rasanya nafsuku lagi meningkat karena mungkin pengaruh istriku yang lagi mens, sehingga sudah 3 hari ini aku tidak mendapat jatah. Siang itu suasana di Mall sangat sepi dan lenggang. Sehingga aku bisa mengobrol dengan Tia. Dan ketika sedang asyik mengobrol aroma wangi parfum Tia sangat menusuk hidungku dan membuat aku terbuai dengan aroma parfumnya.
Dan ketika akan setoran kasir, sebuah ide konyol terbesit di pikiranku. Aku ingin mengerjai Tia si anak baru ini. Akhirnya aku pun menyuruh salah satu karyawan senior yang bertugas melakukan penutupan kasir untuk menyampaikan kepada Tia bahwa uang hasil pembayarannya kurang dan dia di suruh menghadap ke aku untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dan akhirnya siasatku berhasil.
Setelah selesai menyetorkan uang penjualannya dia menghampiri saya dan bertanya mengenai masalah tekoran uang penjualan kepada saya. Dan saya pun mengatakan bahwa uang setorannya memang kurang dan dia harus menggantinya. Saya tawarkan bahwa dia boleh memilih mau di angsur 3 atau 6 kali. Dan untuk memikirkannya, saya suruh dia sms ke saya nanti malam dan meminta nomor hp miliknya.
“Cihuyyy…” akhirnya Tia memberikan juga nomor hpnya kepada saya.
Malam itu Tia mengirim sms kepada saya, yang mengatakan bahwa dia masih bingung mengenai pembayaran tekoran itu. Akhirnya karena tidak tega, saya mengatakan bahwa besok dia harus menemui saya dan dia pun menyanggupinya. Besoknya, dia pun menepati janjinya dan menemui saya di kantor saya. Dan saya pun akhirnya mengatakan bahwa sebenarnya saya hanya iseng mengenai masalah tekoran tersebut. Tia pun akhirnya merasa lega karena ternyata semuanya hanya lelucon biasa. Dan saya pun melanjutkan pembicaraan dengan Tia yang arahnya sich lebih ke pendekatan.
Dan ketika saya tanya apa dia sudah punya pacar, dia menjawab belum punya. Dan ketika saya mengutarakan hobi saya menonton dia pun menjawab kalau dia juga suka menonton. Dan yang membuat saya kaget adalah ketika Tia menanyakan kepada saya apakah saya mau pergi nonton dengan dia. Dan tanpa ragu saya pun mengiyakan ajakannya.
“Tapi, Bapak yang mbayarin yach tiket nontonnya…” ujar Tia.
“Beres… pasti aku bayarin.. Masa kamu yang mbayarin saya… Kan gak etis..” jawabku…
Akhirnya, kami pun sepakat untuk pergi nonton bareng.
Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba, saya dengan Tia pun janjian untuk ketemu di depan pintu masuk bioskop. Memang sengaja kami tidak berangkat bersama dari tempat kerja, untuk menghindari gosip yang tidak diinginkan. Karena jarak mall untuk menonton dekat dengan mall kami, saya memutuskan untuk jalan kaki. Setiba di bioskop, saya lihat Tia sudah menunggu di depan pintu masuk.
Akhirnya setelah basa basi dengan pertanyaan sederhana mengenai lama tidaknya Tia menunggu akhirnya kami pun masuk. Dan selagi, Tia memilih film yang akan ditonton saya membeli minuman dan makanan ringan untuk di dalam.
Selesai membeli makanan dan minuman, saya menghampiri Tia untuk menanyakan apakah dia sudah mendapatkan film yang ingin dilihat. Dia mengganguk dan saya pun membeli tiket untuk kami berdua. Sesampainya di dalam ternyata jumlah penonton yang ada sangat sedikit. Yach, sedikitpun masih belum terbesit pikiran yang jorok di pikiran saya. Akhirnya lampu dipadamkan dan film pun dimulai. Pada saat film dimulai, pikiran saya tidak fokus kepada film yang diputar melainkan kepada Tia yang dalam remang- remang terlihat sangat manis dengan kemeja putih dan rok hitam.
Entah bagaimana awalnya Tia pun mengatakan bahwa udaranya sangat dingin, dan dengan tiba- tiba Tia menarik tangan saya dan memeluknya.
“Maaf Pak, udaranya dingin banget… Minjem tangan Bapak yach… ujarnya seraya memeluk tangan saya di bagian dadanya. Otomatis tangan saya bersentuhan dengan buah dadanya yang terasa sangat kenyal.
” Jangankan tangan, mau pinjem kontol saya juga boleh…” pikir saya dalam hati.
“Pak.. kok nglamun….” ujar Tia membuyarkan pikiran jorokku.
“Ech..ya… maaf Tia… Lagi nglantur aja pikirannya…” jawabku sekenanya.
Tia pun tertawa mendengar jawabanku..
“Hayooo… lagi mikirin apa Pak… Wach, pasti lagi piktor ya Pak… ” ujar Tia sambil tertawa.
“Ya, habis kamu sich… pake acara minjem tangan segala… Mana ditaruh di dada segala.. kan jadinya nempel ke gunung kembarmu..” jawabku.
“Sengaja yach… kamu naruhnya disitu…. biar aku mupeng..terus cenut- cenut..” ujarku.
“Hihihihi… Bapak ini lucu banget dch…. Ya, anggap aja pembalasan dari Tia Pak… Kan kemarin bapak yang ngerjain Tia.. sekarang giliran Tia yang ngerjain bapak…” jawabnya.
“Ya, kalau ngerjainnya masalah gini sch, ada dua kepala yang pusing Tia..” ujarku.
“Lch kok bisa dua kepala yang pusing Pak..?” tanya Tia dengan muka bingung.
“Ya lch.. kepala atas sama kepala yang di bawah ini yang puyeng…” jawabku sambil menunjuk ke arah celanaku, dimana kontolku sudah ngaceng.
“Waduch… ya maaf Pak… Lagian kok pake acara bangun sich Pak adiknya… suruh tidur lagi aja pak adiknya…hihihihi…” ujar Tia, seraya semakin mendekap tanganku ke dadanya dan semakin aku bisa merasakan kenyalnya buah dada milik Tia. “Ech… kok malah ditekan sich tanganku… ntar tak remes loch gunung kembarmu…” ujarku…
“Remas aja Pak kalau mau….” tantang Tia. Bagai mendapat angin segar, tidak kusia- siakan kesempatan emas ini.
Kuremas buah dada Tia yang sebelah kanan dari luar kemejanya. Bisa kurasakan begitu empuk dan kenyalnya buah dadanya Tia. Tanganku semakin asyik bergerilya meremas buah dadanya bergantian dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Sementara di tengah remang- remang cahaya ruang bioskop, bisa kulihat Tia hanya memejamkan matanya dan menahan suara desahannya agar tidak keluar. Untung tidak banyak penonton di ruangan itu dan untung pula di deretan bangkuku hanya ada aku dan Tia.
Aku berpikir, apa mungkin pasangan penonton yang lain melakukan hal yang sama denganku. Ketika kulihat Tia masih memejamkan mata menikmati remasan tanganku di buah dadanya, aku beranikan diri mendekatkan bibirku dengan bibirnya yang terkadang mengigit bibir bawahnya menahan nikmatnya remasan tanganku di buah dadanya. Cuppp… akhirnya bibirku pun bersentuhan dengan bibirnya. Tidak ada tanda penolakan dari Tia, akhirnya kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya berusaha mencari lidahnya.
Dan sungguh diluar dugaan, Tia malah membalas lidahku dengan lidahnya. Akhirnya lidah kami pun saling berpagutan. Di tengan ciuman kami yang menggelora, kususupkan tanganku dari bagian bawah kemejanya yang tidak dimasukkan ke dalam roknya. Dan akhirnya tanganku mencapai bh nya. Kuremas kembali buah dadanya, membuat Tia semakin....Baca Selengkapnya di >> LiputanDewasa.com
Nonton video Bokep Gratis > pilembokep.com dan juga filemseks.com