Cerita Dewasa Cinta Terpendam Kami tiba di lokasi kebun the untuk survey darmawisata agak sore. Karena banyak hal harus di survey dan sebelum siang besok harus kembali ke Padang, kami bagi tugas. Yudi mengurus perizinan serta nama-nama pejabat PTP yang akan membimbing kami ke dalam pabrik teh. Rudi dan Siva mencari dan menyiapkan tempat menginap dirumah2 milik PTP termasuk kamar mandinya. Aku dan Ratih mengecek tempat berkumpul di dekat danau kecil dan di sekitar air terjun. Sebenarnya aku lebih senang jalan sama Siva daripada Ratih.

Aku dipinjami sepeda motor oleh PTP. Kami memutuskan untuk terlebih dahulu meninjau pondok dekat danau ditengah kebun teh. Suasananya nyaman, cocok untuk acara-acara dan permainan teman-teman sekelas. Walaupun serius mempersiapkan acara dan perlengkapan yang diperlukan nanti, Ratih sekali-kali bertindak seperti detektif yang menyelidiki aku.Ratih masih menaruh curiga atas perubahan sikap Bu Neni dan juga kejadian tadi di sungai tadi siang

Aku melihat ada puncak kebun teh yang cukup tinggi. Aku mau kesana dan Ratih ikut. Jalannya melewati celah-celah pohon teh. Dari puncak bukit itu terlihat pemandangan yang luas. Kaki gunung Kerincipun terlihat dari situ. Aku sempat memotret secara mozaik keseluruh penjuru kebun teh yang terlihat dari puncak bukit itu.

Kami kembali ke tepi danau dan merancang kembali acara darmawisata ditempat itu. Ratih bekerja dengan serius.

Saat kami akan ke air terjun seorang pemetik teh menyarankan untuk dilanjutkan besok pagi saja, karena sekarang sudah hampir gelap dan jarak air terjun lumayan jauh. Aku kembali ke posko di rumah dekat kantor PTP dan petugas PTP menyarankan hal yang sama. Yudi juga setuju, besok pulang agak siang, karena besok pagi dia ingn melihat aktivitas pabrik yang tadi keburu istirahat. Mumpung belum gelap aku minta antar petugas PTP menunjukkan arah ke air terjun. Aku diantar sampai batas motor, dan petugas menunjukkan jalan setapak kearah air terjun.

Waktu kembali keposko, kami bertemu dengan Rudi dan Siva dipinggir jalan. Rupanya motor mereka mogok. Karena sudah mau gelap aku menggonceng Siva ke posko dan petugas PTP membantu Rudi menghidupkan motor.

Aku memberitahu Siva bahwa tadi siang kami ke puncak bukit dan dapat melihat pemandangan kesegala arah. Siva sangat ingin ke sana. Motor kuarahkan ke jalan setapak diantara pohon-pohon teh, lalu kami melanjutkan dengan sedikit jalan kaki menuju puncak bukit. Pemandangan yang indah. Semburat matahari mewarnai mega langit. Lampu-lampu rumah pemetik teh dan perumahan karyawan mulai dinyalakan. Dilangit ada bulan sabit yang sudah mulai menemani. Siva duduk di sebidang rumput yang sengaja tidak ditanami teh, aku ikut duduk disebelahnya.

Sumber