Cerita Dewasa Dinda Cintaku Yang Kembali – Sebenarnya pengalaman ini tak akan kuceritakan kepada siapapun juga tapi aku tersiksa terus-terusan untuk menutupinya. Pengalaman seksku yang pertama kualami sudah agak lama tapi terasa seperti baru kemarin.

Aku sekolah di SMA XXX Semarang, sebut saja namaku Bryan. Pada pertengahan kelas dua aku mempunyai seorang pacar, sebutlah namanya Dinda. Orangnya cantik dan sederhana, sungguh aku cinta padanya. Kami berpacaran secara sehat dalam arti tidak menjurus ke hal-hal yang lebih jauh. Pada hari terakhir EBTANAS, kami mendiskusikan masa depan kami. Dan ternyata jalan yang akan kami lalui ternyata berbeda, dia memilih untuk meneruskan kuliah di Surabaya di Ubaya sedangkan aku lebih senang untuk meneruskan kuliah di Salatiga saja karena orangtuaku menginginkan aku kuliah di sana.

Aku coba untuk mengikuti jalan pikirannya, mungkin dia tidak tahan kalau kuliah di kota kecil. Aku kemudian mencoba untuk beradaptasi dengan Surabaya.

Di Surabaya, aku mengikuti bimbingan test dan sempat kost di jalan Trenggilis kalau tidak salah. Tapi pada akhirnya aku menyerah, Surabaya terlalu panas buatku. Memang di sana semuanya tersedia tapi aku tetap tidak tahan. Mau kos di tempat yang ber AC, semuanya sudah fully booked.

Akhirnya aku dan Dinda memutuskan untuk berpisah karena kami saling menyadari bahwa pacaran jarak jauh tidak akan langgeng. Daripada kecewa besok, lebih baik berpisah saja.

Aku akhirnya kuliah di UKSW, Salatiga dan mendapat seorang pacar, sebutlah namanya Putri, anak Solo. Putri pun tidak kalah cantik dan menarik.

Hubungan kami lancar-lancar saja dan tidak mendapat gangguan sampai suatu saat aku mengantar Putri pulang ke Solo. HP-ku berbunyi. Kulihat nomor Surabaya. Sempat tidak kukenali nomor yang memanggil HP-ku. Dengan ragu kubuka HP-ku,

“Hallo?” Terdengar suara lembut yang amat kukenali,
“Dinda!” Hatiku sangat gembira tapi segera kukuasai perasaanku demi melihat Putri memandangku dengan curiga.
“Hai! Eh, nanti saja aku telepon balik, aku sedang nyetir nih!” begitu kilahku.

Setelah Putri kuantar, aku segera menelepon balik Dinda. Kudengar dia juga sudah punya pacar juga di Surabaya. Kami bercerita sampai 1,5 jam dan terpaksa kuhentikan sebab telingaku memerah, mungkin karena radiasi Startac yang begitu besar.

Dinda ternyata memintaku datang ke rumahnya. Ya, akhirnya aku datang juga dengan perasaan takut karena aku sudah berstatus pacar Putri. Dia menganggap aku belum punya siapa-siapa, aku pun tidak bercerita apa pun padanya. Sikapnya persis sebelum kami putus. Kami saling berpegangan tangan dan kami lupa diri, kami akhirnya berciuman. Ciuman yang terasa manis sekali. Aku benar-benar merasa bersalah tapi dia tetap tenang-tenang saja. Dia malah mengajakku ke Salatiga. Aku sebenarnya tidak mau mengkhianati Putri tapi jiwa petualanganku timbul.

Sumber