LiputanDewasa - “Eee… mas Tommy, tumben muncul siang-siang begini…?”Melda sekretaris Tasya menyambutku…
“Sepi amat..? udah pada istirahat..?”sahutku sambil melangkah masuk kantor yang tampak sepi.
“Mmm… Tasya ke customer sama pak Darmo, Liliek dan Tarjo nganterin barang dan katanya Tasya sekalian meeting dengan customer… sukri lagi Melda suruh beli makan siang, tunggu aja mas diruangan
Tasya..”celoteh Melda yang berjalan di depanku memperlihatkan pantatnya yang montok bergoyang seirama dengan langkah kakinya… Aku masuk ke ruangan Tasya, kujatuhkan pantatku ke kursi direktur yang empuk.
Dalam hati aku mengutuk habis-habisan, atas kesialanku hari ini malah sampe disini, ketemu ama Melda. oh ya Melda sebenarnya adalah sahabat Tasya waktu kuliah, janda beranak 2 ini diajak kerja istriku setelah setahun menjanda orangnya cantik, ramah cuma sebagai lelaki aku kurang menyukai karakternya terutama dandanannya yang selalu tampak menor, dengan tubuhnya yang montok tetenya gede sebanding dengan pantatnya yg juga gede, pokoknya bukan type wanita yg kusukai dan menurutku kulitnya terlalu putih jadi tampak kaya orang sakit-sakitan walaupun kata Tasya, Melda orangnya sangat cekatan dan sangat doyan kerja alias rajin Kubuka laptopku dan kunyalakan.
kucari-cari file yang kira-kira bisa menemaniku disini daripada aku hrs ngobrol sama Melda, yang menurutku bukan temen ngobrol yang asyik wow di kantong tas laptopku terselip sebuah DVD wiih DVD bokep punya Rubi ketinggalan disini lumayan juga buat ngabisin waktuku nungguin Tasya. Mmmm Asia Carera lumayan bikin ngaceng juga setelah kira-kira setengah jam melihat aksi seks Asia Carera melawan aksi kasar Rocco Sifredi.
“Ooo.. ooo.. mas Tommy nonton apa tuuuh… sorry mas Tommy mau minum apa..? panas, dingin… hi..hi.. pasti sekarang lagi panas dingin kan..?”suara Melda bagaikan suara petir disiang bolong… dengan nada menggodaku.
“Ah kamu bikin kaget aja… ngg… dingin boleh deh… mm ga ngrepotin neeh..?”sahutku sambil memperbaiki posisiku yang ternyata dari arah pintu, layar laptopku keliatan banget… sial lagiiii…. aahh masa bodo laahh… toh Melda bukan anak kecil.. Melda masuk ruangan lagi sambil membawa 2 gelas es jeruk.
“Mas Tommy boleh dong Melda ikutan nonton… mumpung lagi istirahat… kayanya tadi ada Rocco sifredi yak..?”kata Melda sambil cengar cengir bandel.
“ha… kamu tau Rocco Sifredi juga..?”tanyaku spontan… agak kaget juga, ternyata wanita yang tiba-tiba kini jadi tampak menggairahkan sekali di mataku, tau nama bintang film top bokep Rocco Sifredi.
“Woo bintang kesayangan Melda tuuuh..”sahut Melda yang berdiri di belakang kursiku.
“Kamu sering nonton bokep..?”tanyaku agak heran sebab Melda setelah menjanda tinggal dg orang tuanya dan rumahnya setahuku ditinggali banyak orang.
“Iya tapi dulu waktu masih sama “begajul”itu..”sahut Melda enteng dan membuatku ketawa geli
mendengar Melda menyebut mantan suaminya yang kabur sama wanita lain.
Suasana hening tapi tak dapat dielakkan dan disembunyikan nafas kami berdua sdh tak beraturan, bahkan beberapa kali kudengar Melda menghela nafas panjang, ciri khas wanita yang hendak mengendorkan syaraf birahinya yang kelewat tegang dan beberapa kali kudengar desisan lembut, seperti luapan ekspresi yang kuartikan Melda sudah larut dalam aksi para bintang bokep di layar monitor.
Sementara keadaanku tak jauh beda, celanaku terasa menyempit desakan batang kemaluanku di selangkangan yang mengeras sejak setengah jam yang lalu, mulai menyiksaku dalam kondisi seperti ini biasanya, aku melakukan onani di tempat Tapi kali ini masak onani di depan Melda..? ampuuuunn siaal lagiii..!
“Mel. kamu suka Rocco Sifredi..? memang suka apanya..?”tanyaku memulai komunikasi dengan Melda yang desah napasnya makin memburu tak beraturan dan sesekali kudengar remasan tangannya seolah gemas pada busa sandaran kursi yang kududuki.
“Mmm… hhh.. apanya yak..? iih… mas Tommy nanyanya… sok ga tau..”sahut Melda sambil mencubit pundakku… entah siapa yang menuntun tanganku untuk menangkap tangan Melda yang sedang mencubit… mmm… Melda membiarkan tanganku menangkap tangannya.
“Kamu ga cape, berdiri terus… duduk sini deh..?”kataku sambil tetap menggenggam tangan Melda, kugeser pantatku memberi tempat untuknya, tapi ternyata kursi itu terlalu kecil untuk duduk berdua, apalagi untuk ukuran pantat Melda yang memang gede.
“Pantat Melda kegedean sih mas…”kata Melda sambil matanya melempar kerling aneh, yang membuat darahku berdesir hebat, akhirnya Melda menjatuhkan pantatnya di sandaran tangan.. oooww… aku dihadapkan pada paha mulus yang bertumpangan muncul dari belahan samping rok mininya dan entah sejak kapan kulit putih ini menjadi begitu menggairahkan dimataku..? Kembali perhatian kami tercurah pada aksi seks dilayar laptop… sesekali remasan gemas tangan lembutnya pada telapak tanganku terasa hangat… dimana tangan kami masih saling menggenggam dan menumpang diatas paha mulus Melda.
“Iiih Gila… Melda sudah lama enggak nonton yang begini..”kata Melda mendesah pelan seolah bicara sendiri.. menggambarkan kegelisahan dan kegalauan jiwanya.
“kalo ngerasain..?”tanyaku menyahut desahannya tadi.
“Apalagi…”jawabnya pendek serta lirih sambil matanya menatapku dengan tatapan jalang.
Yang bisa kuartikan sebagai tantangan, undangan atau sebuah kepasrahan, ku usap lembut tangannya dan diikuti tubuh montoknya… kini pantat montok Melda mendarat empuk di pangkuanku sedangkan tanganku melingkar di pinggangnya yang ternyata cukup ramping tak berlemak… Iblis dan setan neraka bersorak sorai mengiringi pertemuan bibir kami yang kemudian saling mengulum dan tak lama lidah kami saling belit di rongga mulut… mmm… tangan Melda melingkar erat di leherku dengan gemetaran kulayani serangan panas janda cantik berumur 31 tahun ini seolah ingin memuaskan dahaga dan rindu dendamnya lewat aksi ciuman panasnya.
Tanganku memang dari dulu trampil memainkan peran jika dihadapkan dengan tubuh wanita… menelusup ke balik blazer hitam yang dikenakan Melda dan terus menelusup sampai menyentuh kulit tubuhnya… sentuhan pertamaku pada kulit tubuhnya membuat Melda menggeliat resah dan mengerang gemas… rangkulan tangannya semakin erat di leherku sementara ciuman bibirnya juga semakin menggila mengecupi dan mengulumi bibirku… tanganku mulai merambah bukit dadanya yang memang luar biasa montok, yang jelas diatas 38 B… sebab buah dada Tasya istriku yang ber bra 36B jauh tak semontok buah dada Melda… Tiba-tiba Melda meronta keras, saat tanganku meremas lembut buah dadanya yang mengeras akibat terangsang birahi tinggi.
“Ooohh… mas Tommy suudaah mas… hhh.. hhh… jangan mas, Melda ga mau menyakiti Tasya…hh…
ooohh..”kalimat diantara desah nafas birahi ini tak kuhiraukan dan rontaan kerasnya tak berarti banyak buatku…
tanganku yang melingkar di pinggangnya tak mudah utk dilepaskannya.
“Ada apa dengan Tasya..? ga akan ada yang merasa disakiti atau menyakiti selama ini jadi rahasia…
ayo waktu kita tak banyak… nikmatilah apa yang kamu ingin nikmati…”bisikku lembut di sela-sela aksi bibir dan lidahku di leher jenjang berkulit bersih milik janda cantik bertubuh montok ini.
“Ampuuun mas, oooww… Melda ga tahaaan… hh..hh… ssshhh…”rengek Melda memelas yang tak mampu membendung gelegak birahi yang mendobrak hebat pertahanannya.
Blazer hitam yang dikenakan Melda sudah....Baca Selengkapnya di >> LiputanDewasa.com
Nonton video Bokep Gratis > Pilem Bokep - Streaming Film Seks Online Gratis dan juga Nonton Film Seks | Film Porno Online