LiputanDewasa - Biasanya aku sarapan pagi bersama papa dan mama, tapi pagi itu sarapan sendiri, karena papa dan mama pulang kampung ke Yogya mengajak Adit sepupuku, anak Tante Lisa adik mamaku. Di rumah hanya ada Aku dan Tante Lisa yang sedarah dengan ibuku.
Selesai sarapan, aku menaruh piring di cucian. Ketika melewati kamar mandi, pemandanganku terhenti memperhatikan Tante Lisa lagi mandi. Badannya membelakangi pintu sehingga tidak sadar pintu kamar mandi setengah terbuka. Tubuh tinggi padat berisi dan rambut hitam lebat panjang basah tersiram air menyebabkan sex aku muncul menggebu. Aku segera kembali ke kamar. Disana langsung onani menggunakan pelicin baby oil sambil membayangkan seolah sedang menyetubuhi Tante Lisa. Tiba-tiba terpikir olehku kenapa tidak sekali-kali minta Tante Lisa melayani sex aku? Bukankah dia juga pernah memergoki aku lagi onani di kamar?
Aku tidak menyelesaikan onaniku. Dengan penis mengacung tegang tanpa busana bagian bawah, aku menuju kamar madi. Ternyata Tante Lisa sudah selesai mandi dan ada di kamarnya. Kamar Tante Lisa yang tertutup langsung aku buka.
Saat itu Tante Lisa sedang mengeringkan badan dengan handuk. Ia menjerit kaget. Tapi secepatnya Tante Lisa aku peluk dan aku dorong rebah ke tempat tidurnya. Ia meronta “jangan….Andre….. aku nggak mau…. Jangan….. aku takut…..”. Aku memaksanya sambil membentak “tante diam saja…. nurut aku”. Aku semakin kalap ketika Tante Lisa mendorongku dan akhirnya tangan Tante Lisa aku kunci ke belakang. Setelah beberapa kali meronta tidak berhasil, akhirnya Tante Lisa menangis sesenggukan. Aku mengendorkan pegangan tanganku dan mengusap air matanya “tante, maafin aku ya…. aku kepingin merasakan. Tante mau ya…. “.
Kemudian Tante Lisa aku tarik berdiri dan aku peluk, aku ciumi. Penisku yang telah kendur kembali berdiri perkasa. Tante Lisa diam dan kedua tangannya menutup dada dan perut bawah. Sekali lagi aku membisikkan kata “tante,….. aku sayang sama mbak, maafin. Aku belum pernah merasakan seperti ini, beri aku sekali saja ya tante….”. Aku usap-usap keningnya dan aku dekatkan mukaku ke mukanya sampai hidungku bersentuhan dengan hidungnya. tante takut……tante…. nggak mau…. nanti papa dan mama marah kalau tahu dan …. tante takut hamil”. Aku peluk Tante Lisa dengan erat dan aku bisikkan kata “tante…. aku tahu caranya tidak hamil. Aku tidak keluarkan di dalam dan aku keluarkan di luar seperti onani. Aku ingin sekarang tante, mumpung papa dan mama juga tidak di rumah. Aku kepingin banget merasakan dari tante,…. boleh ya tante….”.
Setelah mendapatkan berbagai bujukan dan rayuan, nafas Tante Lisa melonggar dan kelihatan sedikit tenang. Kemudian ia semakin bisa menerima pelukanku yang tidak pernah lepas. Harum wangi sabun yang melekat di tubuh Tante Lisa menambah tinggi gairahku. Badan Tante Lisa aku balik searah dengan tubuhku. Penisku yang tegak berdiri menonjol ke pantatnya. Tanganku mengarah ke dadanya. Ternyata ia tetap tidak mau melepaskan kedua tangan yang menutupinya. Beberapa kali tanganku disibakkan. Akhirnya leherku menjulur dan mulutku menelusuri belakang telinga dengan kecupan lembut dan jilatan merangsang.
Perlahan-lahan Tante Lisa bereaksi menengokkan kepala supaya lehernya tidak terjangkau mulutku. Setelah beberapa saat kemudian Tante Lisa bertambah tenang, tanganku berhasil menjangkau ujung buah dadanya. Dengan tarikan dan pelintiran halus di putingnya, Tante Lisa tidak melawan lagi. Tangan kananku melingkar meraba ke perut bawah tapi dengan sigap tangannya menyingkirkan tanganku. Ketika tanganku ke atas menuju buah dadanya kembali, ternyata ia membiarkan saja. Aku semakin yakin bisa berhasil menyetubuhi sehingga jariku dengan pelan mengusap gunung kenyal menonjol. Remasan halus di buah dada Tante Lisa dengan pijitan ke arah depan dan pelintiran perlahan di puting susu, menyebabkan Tante Lisa menarik nafas dalam.
Ketika mulutku mengisap tengkuknya dan kedua tanganku meremas gemas di kedua gunung kembarnya, nafas Tante Lisa mulai memburu. Aku melirik matanya terpejam. Tarikan nafas di mulutnya terdengar mendesis dan kepala yang semula tegak sudah dirobohkan ke pundakku. Aku mendudukkan dan merebahkan Tante Lisa ke tempat tidurnya dengan kaki menjuntai ke bawah. Mulutku mulai menelusuri gunung kembar sambil melepaskan baju kaus yang masih di badanku. Puting kecil kemerahan mulai aku sedot dengan mulutku dan satunya aku memelintir. Semakin ke bawah mulutku bergerak menelusuri perutnya, semakin panjang tarikan nafas Tante Lisa.
Ketika mulutku sampai ke belahan paha, lidahku menjulur memasuki lipatan basah dan menyusup ke dalam. Aku mencari daging kecil seperti yang aku lidat dalam tontonan VCD. Daging itu aku usap dengan ujung lidah. Tiba-tiba Tante Lisa menggelinjang dan tangannya meremas rambutku serta menekan ke dalam. Lidahku liar masuk ke liang vagina dan daging lembut menonjol itu aku permainkan dengan lidahku.
Tante Lisa mengerang lembut sambil nafasnya sedikit tersengal dan kepalanya digoyangkan ke kanan dan kiri, aku segera mengakhiri permainan itu dan ganti penisku menyusup vagina Tante Lisa.Posisiku berdiri dan badan Tante Lisa rebah di kasur dan kakinya menjuntai ke tanah. Ketika ujung penisku menyusup di ujung liang senggama, Tante Lisa membuka pahanya lebar sehingga memudahkan aku memasukkan penis.
Untuk lebih memudahkan, maka kedua kakinya aku letakkan di atas pundak. Aku merasakan nikmat ketika penis makin masuk ke dalam dan akhirnya …. bles…. sampai pangkalnya. Tarikan dan dorongan sambil gerakan diputar menyebabkan gerakan kepala mbak Parmi ke kiri dan kanan semakin sering. Tiba-tiba ujung penisku seperti disedot dalam vagina sehingga aku mengocok maju mundur lebih cepat. Tante Lisa tiba-tiba mengejang dan pantatnya diangkat sambil mendesis suara tertahan “…….Waowwww…….ssss…..ooohhhahhh…..sessss…..aauuw…. .ssss….”.
Di penisku terasa ada gerakan denyut yang memeras. Begitu nikmat sehingga....Baca Selengkapnya di >> LiputanDewasa.com
Nonton video Bokep Gratis > Pilem Bokep - Streaming Film Seks Online Gratis dan juga Nonton Film Seks | Film Porno Online