Cerita Seks Nafsu Terpendam Biarawati – Sr. Floren yang berusia 39 tahun adalah seorang suster dengan badan sintal dan sensual. Karena tubuhnya cukup pendek (155 cm) maka ia kelihatan sedikit gemuk. Sikapnya yang agak genit ditambah lagi dengan ukuran pinggulnya yang aduhai dapat membuat para pria yang menghadapinya salah tingkah. Apalagi payudaranya yang berukuran 36B, tampak indah membusung di balik baju putihnya, membuat jantung para pria berdebar keras saat menatapnya. Jadi meskipun kulitnya berwarna coklat gelap, hal itu tidak mengurangi sensualitasnya.

Semasa kuliahnya Sr. Floren pernah menonton film xxx dan membaca beberapa buku buku dewasa. Pada masa awalnya sebagai suster, Sr. Floren pernah satu kali melakukan hubungan seksual dengan murid di sekolah tempatnya mengajar. Hilangnya keperawanan itu begitu membekas sehingga dia kerap merindukan saat-saat menggairahkan itu. Sayang sekali muridnya itu telah pindah jauh ke luar kota.

Sebagai seorang suster yang tidak boleh menikah dan tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual, perbuatan Sr. Floren itu tentu saja merupakan pelanggaran yang sangat berat. Tapi selain Sr. Floren dan muridnya itu, tak seorangpun tahu mengenai aib itu. Untunglah Sr. Floren tidak sampai hamil karenanya.

“Ah…. toh cuma sekali saja, yang penting sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi”, begitu pikir Sr. Floren tatkala ingatan tentang hubungan sex pertamanya itu terbayang kembali.

Sikap Sr.Floren yang seolah menantang dan menggoda para pria yang bertemu dengannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengakrabkan diri, agar tidak dianggap sebagai suster yang angkuh dan sombong. Di saat-saat yang memerlukan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang sulit, Sr. Floren tetap menjaga sikap tegasnya sebagai seorang suster.

Namun sikap Sr. Floren itu ditangkap lain oleh 4 orang pemuda yaitu Arnold, Wiro, Roy dan Tono. Keempat pemuda itu sepakat untuk menculik dan memperkosa Sr. Floren. Tempat untuk itu sudah dipersiapkan, sebuah vila di tengah-tengah kebun teh yang terpencil. Jarak dari villa tersebut ke desa terdekat kira-kira 6 kilometer. Sebuah tempat ideal untuk bermain seks, apalagi hawa daerah itu yang cukup dingin dianggap cocok untuk berhangat-hangat dengan tubuh Sr. Floren yang sintal itu.

Di pagi hari yang masih dingin, Sr. Floren berjalan dari gedung biara ke gedung sekolah tempatnya mengajar, yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena hari masih sangat pagi, jalanan sepi. Hal ini dimanfaatkan oleh keempat pemuda itu yang sudah mengamati kebiasaan Sr. Floren selama beberapa waktu.

Sumber