Cerita Ngentot Aduh Om Nikmatnya – Setelah tamat SMU, aku tinggal ma kerabat jauh orangtua ku di ibukota. Hubungan keluarga jauh itu terjadi karena ikatan pernikahan. Aku gak bisa meneruskan sekolahku karena ortuku gak punya biaya. Makanya aku ikut dengan om ku agar lebih mudah untuk mencari pekerjaan. Lagian omku itu punya koneksi yang luas. Karena aku belon punya pengalaman kerja, aku dikursusin si om mengenail IT karena biasanya kerjaan IT lebih sering tersedia di industri apapun juga sekarang ini.

Untuk mengisi waktu luangku, aku membantu pekerjaan dirumah, karena tanteku juga kerja. Pembantu di rumah itu hanya dateng 2 hari sekali mengingat gak banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Makanya aku membantu melakukan pekerjaan dirumah pada saat PRT tidak dateng.

Oomku itu usianya sekitar 40an, sebenarnya tanteku itu istri yang kedua. Si om dah cerai dengan istri pertamanya dan anaknya semata wayang dibawa oleh istrinya. Aku suka melihat omku itu, orangnya keren, atletis lagi badannya karena dia rajin berfitness ria bersama si tante seminggu sekali. Aku diajak juga untuk fitness, ya aku ikut aja, namanya juga dibayarin kan.

Si om selalu berbinar-binar melihat aku ketika memakai pakean olah raga yang minim dan terbuka. Tanteku itu jauh lebih muda dari omku, katanya sih beda umurnya ada 15 tahun, rupanya si om seneng dengan daun muda ya. Aku mo manggilnya teteh gak enak, takut dibilangin kurang ajar. Mereka juga belon punya anak, kayanya si om gak mo cepet-cepet punya anak dari istri barunya itu.

Yang bikin aku kaget, rupanya si om doyan banget ngesex, kayanya hampir setip malem dai melakukannya dengan tanteku. Memang si karena tanteku muda, sexy, cantik, boNisya pastinya merangsang si om untuk ngen totin dia tiap malem. Aku taunya hal itu ketika aku terbangun malem2. Karena pengen kencing, makanya aku keluar kamar ke wc. Kembalinya dari wc, dengan mata yang masih mengantuk, aku melewati kamar mereka.

Terdengar erangan dan lenguhan si tante,

“Maas, terus mas, yang keras mas, ngocoknya, enak maas”, dan erangan dan lenguhan berahi semacam inilah.

Aku jadi hilang ngantuknya, dan nguping erangan erotis si tante, dampaknya sangat fatal bagiku, aku jadi bertanduk (horn kan tanduk, jadi horny kan artinya bertanduk dong). Cukup lama aku nguping erangan si tante, kayanya si om kuat juga karena erangan si tante gak reda-reda tapi malah menjadi-jadi. Aku gak tahan lagi dengan tanduk yang timbul, aku balik ke kamar. Segera aku melepas semua yang melekat dibadanku, dengan ngangkang di ranjang aku nulai meremas2 toketku, pentil kuplintir2 dan tangan satunya menggosok-gosok mekiku, it il kusentil-sentil sendiri.

Sumber