Cerita Sex Niki Gadis Yang Imut – Sejak masih di bangku 1 SMP, Niki sudah terlihat cantik. Dulu tubuhnya mungil. Berkulit putih bersih. Di antara cewek sekelasnya kecantikannya paling menonjol. Niki menjadi pusat perhatian juga karena kecerdasannya. Itu diakui oleh teman-teman dan para guru. Tetapi kekurangan Niki adalah, dia cewek pemalu. Tidak PD. Bila didekati cowok, salting (salah tingkah) . Karena kekurangannya ini, Niki tak punya banyak teman cowok. Meskipun sebenarnya banyak yang naksir berat sama dia.

Diam-diam ada salah seorang gurunya menaruh hati pada cewek mungil ini. Pak Gun, yang di usia 40 masih sendiri. Bujang Lapuak, kata orang Minang. Sebagai guru, dia tahu diri, sadar usia, maka yang bisa dilakukan hanya sebatas menggoda atau kadang-kadang memberi tugas ringan, mengambilkan tas di kantor atau disuruh foto kopi soal di koperasi sekolah.

Bagi Pak Gun, yang penting bisa dekat, bisa bicara dan kalau bisa, …. sedikit menyentuh tangannya atau mencubit pipinya. Itu sudah cukup. Begitu terus sampai kelas tiga dan lulus, Pak Gun belum berhasil pedekate. Bahkan sampai lulus!!!

Di mata para siswa, dia guru yang menyenangkan, berjiwa muda, pandai bikin lelucon segar saat mengajar dan ….. murah hati. Maka ketika mereka sudah lulus, masih sering mengunjungi rumah Pak Gun yang tinggal di situ ditemani ibunya yang sudah lanjut usia. Tidak heran jika acara reuni pertama mereka setelah 3 tahun meninggalkan SMP tercinta, diselenggarakan di rumah Pak Gun. Sederhana tetapi meriah. Acara demi acara lancar dan meninggalkan kesan yang mendalam. Hampir seluruh siswa hadir. Tidak terkecuali NIKI. Pak Gun belum melupakan Niki. Guru jomblo itu masih memegang teguh tekadnya untuk mendapatkan Niki.

Acara reuni sudah selesai. Sudah banyak yang pulang. Pak Gun berusaha menahan sebentar agar cewek pujaannya itu tidak pulang dulu. Bujangan tua ini sudah menyiapkan trik menarik, dia berharap bisa berhasil.

“Niki, jangan pulang dulu. Sebentaaaaaaar saja.”
“Ada, apa Pak.” Niki menahan langkahnya di tangga teras.
“Mumpung kamu pakai pakaian cantik, aku mau ambil gambarmu.”
“Ah, Niki malu, Pak!” Niki langsung sembunyi di balik tubuh Dea yang ada di dekatnya. Tetap saja dia masih pemalu.
“ Dewi, Sumi dan Andre, temani Niki. Dia malu foto sendirian.” Masih terasa wibawa Pak Gun sebagai guru.

Beberapa anak bergaya di depan kamera. Tetapi Pak Gun hanya meng- close up Niki saja. Mereka nggak tahu tipuan itu..

Selesai foto mereka keluar dari teras menuju motor masing-masing. Pak Gun melambai ke Niki juga. Dia membocengkan Dea, sahabat dekatnya. Akhirnya rumah itu sepi. Tetapi Pak Gun masih berdiri di pintu pekarangan. Ada sesuatu yang ditunggu. 2 menit, 3 menit sampai 7 menit tak ada apa-apa. Pak Gun melangkah masuk, tiba-tiba langkahnya terhenti dan menoleh.

Dia mendengar suara sepeda motor mendekat. Pak Gun tersenyum. Pasti anak itu mau ambil helm yang sengaja disembunykan agar cewek pujaan htinya yang pemalu itu kembali saat yang lain sudah pulang.

“Aduuuh, Pak, helmku di mana ya?” Niki bertanya dengan cemas.
“Lho, sudah sampai di mana? Kok baru ingat kalau nggak pake helm?” Pak Gun pura-pura heran.
“Gara-gara saya difoto-foto tadi, jadi saya tertinggal teman-teman.” Niki cemberut, dia protes.
“Aku pake topi serasa pake helm.Ternyata belum pake helm. Untung Dea mengingatkan.”
“Wah, sorry Niki. Betul juga kamu. Kalau masih banyak teman kan bisa bertanya .” Pak Gun mencoba menenangkan kepanikan cewek cantik itu.

Sumber