Cerita Ngentot Muktoha Mengicipi Perawanku – Aku sekolah kelas 3 SMA biasa orang memanggilku dengan Maya tapi nama panjangku Mayangsari, dengan tinggiku 169 cm kulitku putih dengan rambut sebahu orang orang banyak yang bilang jika cocok jadi model, aku anak ke 3 dari 4 saudara dan saat ini aku belum mempunyai pacar, kesemua saudara sudah mempunyai pacar kecuali adikku yang paling bontot.

Pengalaman ini tidak kukarang sendiri tapi berdasarkan cerita asli yang kualami di tahun 2015 ini. Ceritanya begini. Bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Muktoha. Orangnya tampan, tinggi sekitar 170 cm, dan tubuhnya atletis.

Pokoknya sesuai dengan pria idamanku. Perbedaan umur kami sekitar 8 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di Jakarta. Kami kenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas III di SMA-ku.

SMAku di kawasan Jakarta Barat. Dan pada saat itu Muktoha sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada saat itu Muktoha hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah.

Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon rumah. Kira -kira tiga hari kemudian, Muktoha menelepon ke rumahku.

“Hallo selamat sore, bisa bicara dengan Maya, ini dari Muktoha.”

“Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, aku kira sudah lupa.”

“Gimana kabar kamu, mana mungkin aku lupa. Hmm, May ada acara nggak malam minggu ini.” Aku sempat kaget Muktoha mengajakku keluar malam minggu ini.

Padahal baru beberapa hari ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku kok.

“Hmmm… belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada,” jawabku.

“Kenapa bisa begitu,” balas Muktoha. “Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalo batal acaranya aku bakalan akan nggak terima telpon kamu lagi,” balasku lagi.

“Ooo begitu, kalau gitu aku jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu.” Kemudian aku memberikan alamat rumahku di kawasan Maruya. Dan ternyata rumah Muktoha tidak begitu jauh dari rumahku.

Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak. Tepat hari sabtu sore, Muktoha datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana.

Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Muktoha menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat. “May, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu,” bisik Muktoha mesra.

Sumber