Cerita Dewasa Kenangan Dengan Mbak Dini Dini, seorang wanita yang baru kukenal kira-kira akhir April kemarin di salah satu mall yang ada di kota ini. Perawakan wajah datar, sederhana, dengan body yang lumayan aduhai. Tinggi 169 cm dengan berat 57 kg. Kulit sawo matang, layaknya orang kebanyakan. Potongan rambut pendek, sangat serasi dengan wajah dan postur tubuhnya yang langsing, sexy.

Dini, usianya sekitar 32 tahun, seorang pegawai PNS, di salah satu instansi yang ada di daerah ini. Dari perkenalan yang tak sengaja itu, akhirnya kemudian berbuntut dengan janji untuk bertemu lagi setelah dia memberikan nomor telepon kantornya untuk kemudian kami pun berpisah.

Bermula dari telepon-teleponan ke kantornya, tentu saja saat jam kantor. Akhirnya suatu hari, kira-kira 5 hari setelah pertemuan itu. Tepatnya hari Sabtu, setahuku, hari Sabtu jam kantor pegawai hanya sampai jam 12:00 siang. Janji bertemu di sebuah restorant fast food di sebuah mall yang terletak tidak jauh dari rumah dinas gubernur.

Dan sesuai janji, jam 12:45 WITA, Dini muncul dengan seorang teman wanita. Kalau kutaksir umur teman Dini itu, kira-kira sebaya dengan Dini, 32 tahun, karena garis wajah yang tidak beda jauh dengan Dini. Seorang wanita berperawakan manis, kulit putihbersih, menurut dugaanku dia dari utara, Manado (maaf) mungkin.

Entahlah, karena sepanjang pertemuan dengan Dini dan temannya itu, aku tak pernah menanyakan asal usulnya. Hanya sempat menanyakan namanya, Riris. Dini yang dari pengamatanku selama pertemuan itu, perkiraanku, Dini menggunakan bra berukuran 36 dan Riris menggunakan bra berukuran 34. Tinggi Riris pun sedikit di bawah Dini. Hanya saja rambut Riris yang sepunggung membuat dia kelihatan lebih asyik. Saat itu, kedua teman baruku itu masih menggunakan pakaian kantor, seragam coklat.

Hingga selesai makan di restoran fast food tersebut, aku diajak ke rumah Riris. Sesuai dengan permintaan Riris yang minta tolong untuk membetulkan VCD-nya yang tidak bisa di on. Dengan taxi kami pun berangkat bertiga ke rumah Riris yang ternyata agak jauh dari tempat kami bertemu tadi. Di sebuah perumahan di kawasan utara kota Makassar. Setelah kira-kira setengah jam di taxi, akhirnya sampai ke rumah Riris.

Turun dari taxi kuperhatikan rumah tersebut kosong. Dan setelah kutanyakan pada Riris, katanya memang dia tinggal sendiri. Padahal menurut perkiraanku, Riris ini sudah bersuami. Lain halnya dengan Dini yang memang sejak pertemuan pertama kami sudah aku tahu kalau dia sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak perempuan sudah kelas 6 SD.

Sumber