LiputanDewasa - Kisah ini berawal ketika aku melamar pekerjaan di suatu perusahaan, sebagai pegawai baru staff marketing aku ditrainning layaknya pegawai baru lain tapi kali ini agak berbeda.. Karna ini menjadi suatu kisah yang tak pernah terlupakan selamanya.
Namaku Shena umurku 26 tahun tinggi ku 164cm dan payudara ku yang berukuran 34b , Aku sudah menikah dan memiliki 1 orang anak yang masih kecil, suamiku bekerja sebagai sauce chef di suatu restoran besar.
Singkat cerita aku di izinkan suamiku untuk kembali bekerja ke perusahaan yang aku mau, setelah mengirim surat lamaranku , 2 minggu kemudian aku di panggil untuk interview.
Aku pergi di hari itu di pagi sekitar jam 8 setelah pamitan dengan suamiku dan menitipkan anak kami dengan neneknya.
Sesampainya aku di kantor itu. Aku berhadapan dengan seorang resepsionis.
Seorang perempuan bisa dibilang tidak lagi muda “pagi ada yang bisa saya bantu mba” ,
saya ada janji dengan pak gery hari ini, atas nama Shena,
ohh mbak Shena yaa. Mau interview kan?? Sebentar saya panggilkan pak Huang dulu” kata resepsionis tersebut.
Tak berapa lama pak gery datang, pak gery seseorang yang bertubuh tegap berpostur tinggi dan besar tangannya terlihat berotot terlihat dari wajah dia seperti keturunan mandarin.
“Halo mbak Shena, selamat pagi (sambil menjabat tangan)” ,
pagi pak, maaf ya pak kalau saya datangnya Terlambat , “ahh ngak kok santai aja, yukk mari ikut saya” aku pun berjalan mengikutinya ke sebuah lift. Kantor ini sangat besar dan terdiri dari 8 lantai penjagaannya pun sangat ketat, cctv dimana mana bahkan di lift menggunakan sensor sidik jari untuk menjalankannya.
Singkat cerita kami menuju ke lantai 4. Kami menuju ruangan office yang isinya bahkan seperti ruang keluarga . “silahkan duduk dulu mba ya” , “iya paak” , pak Huang membawa 2 gelas jus jeruk ke meja dan duduk di shofa di sebelahku.
“Ini beberapa berkas yang harus di isi mba ya, disana pertanyaannya lengkap jadi mohon jangan ada yang di kosongkan yaa” ,
“baik pak”, pak Huang menanyakan pertanyaan pertanyaan basa basi sambil aku menulis data yang harus ku isi, dan membaca beberapa ketentuan nya, aku agak sedikit merasa aneh dengan bebarapa ketentuannya karna mengharuskan ku ‘diperiksa secara fisik dan uji kesehatan secara langsung dan direkam menggunakan kamera’ aku tidak bermaksud negativ tentang hal itu karna uji kesehatan sudah lumrah di perusahaan perusahaan besar .
“nah mba kan baca ketentuannya ini juga termasuk persyarataan untuk diterima ke perusahaan ini, mba sanggup kan?”
“yaa pak, saya sanggup” , “jadi ini form yang akan saya isi setelahh saya melakukan medical check up pada mba Shena, saya akan melakukan tes fisik dulu mbak ya jadi saya akan nyalakan camera nya”,
Berdiri sambil menyalakan sebuah kamera yang sudah di letakkan di depan meja dan mengarah persis ke shofa besar kami duduk.. “
Mba saya akan melakukan check-up pada mba tapi ini bakalan mengaggu dan gak nyaman buat mba” , “kalo boleh tau saya akan di check apanya pak” ,
“gini lohh mba, saya dipercaya untuk mengetest uji kesehatan pegawai yang akan masuk ke perusahaan ini, karna perusahaan ini akan memberikan kontrak kerja seumur hidup buat karyawan disini, jadi kami harus mengetahui kelayakan dan kualitas manusia yang akan bekerja disini” ,
“iya pak saya mengerti pak” ,” dan juga mbak diperiksa dengan detail jadi, akan ada test seperti kangker payudara dan ataukah mba pernah mengkonsumsi narkoba atau obat terlarang, pecandu alkohol dan hingga apakah mbaa pernah mengidap penyakit sepilis atau berapa penyakit yg diderita sejak kecil” ,
Aku terdiam mendengar yang di ucapkan pak gery tentang uji kesehatan ini. Tapi dipikir – pikir aku 100% sehat dan namun agak takut juga tentang uji kesehatan ini.
“Mba gak usah khawatir” dengan suara menenangkan dia membangunkan lamunanku ,
“saya seorang yang bersertifikat saya dulu lulusan perawat, dan udah pernah jadi asissten dokter tapi karna disini perusahaan keluarga ya saya juga akan kerja disini” ,
“tapi paak gimana tentang testnya ? Kalau sampai mendetail seperti itu, sama saja mengeksplor bagian bagian intim saya dong?”,
“iya itu juga menjadi keharusan. Yaa memang syarat yang cukup berat sih, tapi mbak boleh saja mundur dari sini , tapi itu sudah dianggap gagal, kami tidak memaksakaan tentang ini namun ini sudah menjadi standart di sini, jadi mau gk mau sih.
Semuanya terserah pada mba, banyak juga kok yang mundur dari tes ini mbak” , “beri saya waktu untuk berpikir dulu pak” , ” ya mbaa” , aku berpikir kras tentang hal ini
Ini benar benar mengganggu, padahal ini sudah di depan mata, “lalu pak apakah harus direkam begitu pak?” , “yaah itu sebagai keamanan profesional mbak, agar tercipta bukti kalau ada hal yang tidak di inginkan” ,
akhirnya aku mengalah biarlah , mungkin ini memang persyaratan yang diharuskan apa boleh buat. Lagipula pak Huang terlihat tidak mesum dan cara dia bicara juga agak ke wanita wanitaan. “yaudah pak, kalau saya setuju apa yang harus dilakukan pertama pak” ,
“kalau memang setuju mbak tanda tangani berkas yang di isi tadi, dan ganti bajunya dulu menggunakan baju khusus yang kami sediakan” pak Huang sambil menyerahkan ku sebuah baju dari dalam tasnya, baju ini seperti baju daster biasa.
“Mba habisin dulu jus nya , tarik nafas santai aja dulu relax kalo udah baru ganti baju, saya juga ingin siap siap”, aku menarik nafas panjang dan menenangkan pikiranku sejenak sambil meminum jus yang disediakan di meja kecil ini, pak Huang sedang sibuk memasang jas lab warna putihnya dan menyiapkan sebuah kertas yang akan disi data data kesehatan ku.
” gimana mba?? Sekarang?” Kata pak Huang sambil memasang sarungtangan karetnya “iya pak, saya ganti bajunya dulu” , “itu disana mbak ruang gantinya”, aku berjalan menuju ruang ganti, aku melepas semua pakaian ku, menyisakan bra dengan celana dalam dan stoking ku.
Aku memasang baju yang disediakan oleh pak Huang, baju ini berlengan pendek dan sangat nyaman dipakai , tidak terlalu tipis baju ini layaknya daster yang panjangnya menutupi lututku , aku berjalan keluar dan langsung di sapa pak Huang,
“stokingnya mohon dilepas mba ya”,
“ohh iya, maaf pak.” aku kedalam lagi dan melepas stoking ku.. Setelah itu aku kembali ke shofa itu dengan perasaan agak gugup , “habisin jus nya dulu yaa mba, soalnya meja nya mau kita jauhin dulu” , aku tersenyum sambil mengambil gelas ku, aku habiskan sisa jus itu dan meletakannya kemeja, pak Huang menjauhkan meja tersebut dan mengarahkan cameranya agar sejajar
“Mba siap ya?? Soalnya saya akan rekam” ,
“iyaa pak” dengan perasaan masih tegang aku akan melakukan ini, kamera mulai merekam, pak Huang datang sambil membawa kertas yang akan di isinya tentang data ku mengenai tes ini,
“jelaskan spesifikasi mba dari tinggi , berat badan, umur, dan lama menikah” ,
“tinggi saya 164cm , berat badan saya 44kg , usia pernikahan saya sudah hampir 5tahun” ,
“bisa saya liat pergelangan tangannya” pak Huang meraih tangan kiriku dan menekan urat nadiku, lalu mencatat nya ke kertas itu,
“buka mulutnya mba ya..” Aku membuka mulutku dan pak Huang memeriksanya dengan senter, setelah itu dia mulai meremas-remas lengan ku
“maaf mba ya, ” ,
“iya pa” , setelah ia lakukan itu di kiri dan kanan tangan ku, dia pindah ke bagian kaki ,
“maaf kalau lancang mba ya” ucap pak Huang sambil melepas kedua sepatu ku, dia mulai meremas-remas kedua kaki ku hingga sampai ke paha, aku masih belum curiga tentang ini tapi aku akan tetap menjalaninya.
“Ini agak mulai vulgar mba, jadi saya akan mengecek ke bagian payudara jadi saya mohon ijinnya mba ya” ,
“oh ii-iiya” setelah dia mengisi form medical checknya dia meluai memegang kedua dada ku, dia menyentuhnya perlahan dari luar baju dengan lemah lembut.
Kedua tangannya bermain pelan di kanan dadaku, setelah beberapa saat dia pindah ke bagian kiri, dsini aku mulai merasa aneh, seolah aku terbawa suasana, aku merasa seperti seluruh badanku ikut merasakan sentuhan di kedua payudaraku
Pak Huang pindah ke belakang ku berdiri dari belakang shofa sambil meremas kedua payudara ku, remasannya semakin terasa lebih keras,
“mba angkat bajunya dulu mba “, ucap pak Huang dengan santai sambil mengangkat dasterku dari bawah hingga leher ku, terlihatlah celana dalam ku yang biru muda dan bra biru mudaku, aku agak kaget melihat CD ku keliatan seperti berair keringat atau kencing ntah apalah aku tidak mengerti,
Pak Huang hanya kembali melanjutkan remasannya di kedua dadaku tapi kali ini agak sedikit liar, tangannya bergerak berbeda dari sebelumnya,
“ukuran bra nya brp mba??” , aku sempat kaget mendapat pertanyaan itu tapi yang dilakukannya melebihi pertanyaannya “36b pak” ,
“mmmm maaf mba ya, ini saya lepas dulu” pak Huang melepas kaitan bra ku dan kembali ke posisi di sebelahku , perasaanku aneh bercampur aduk merasa sangat malu tapi juga ada sensasi lain entah apalah itu, aku seolah merasa sangat berenergi tapi seolah tubuhku sangat malas untuk bergerak “apa masih lama pak, saya malu banget sama bapak” ,
“maaf mba maaf banget yaa , kita sambil ngobrol aja yahh biar perhatiannya kita agak teralihkan mba aja yang nanya nanya soal saya” ,
Aku sangat merasa aneh dalam kondisi itu pak Huang yang kembali mencatat tulisannya dan menjelaskan tentang dirinya,
“saya udah kerja disini 11 tahun, kebanyakan karyawan manggil saya ‘ngkoh’ padahal saya bukan cina tapi saya keturunan korea umur saya sekarang 44tahun” , aku hanya diam dan memerhatikannya lalu kembali dia melanjutkannya.
Kali ini dia mulai dengan memencet-mencet putingku aku merasa sangat gelii dan juga sepertinya .,.......Baca Selengkapnya di >> LiputanDewasa.com