Cerita Sex Ngentot Bispak Hot - “Rani.. atas nama cinta.. atas segala apa yang pernah kita jalani.. jadilah istriku!”Rani terdiam mendengar permintaanku, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa Ran?”

Rani terdiam, menghentikan tertawanya, menatapku tegas.
“Cinta tidak harus memiliki.. Val..” katanya pelan.
Tapi bagiku ibarat geledek.
“Lantas? apa arti semua ini?” tanyaku sambil bangkit dari tidurku.
Rani bergerak dari posisi tidurnya, memakai celana dalamnya, dengan santainya ia berdiri, berjalan ke depan cermin dan menyisir rambutnya.
“Sudah jam empat sore Val, aku harus pulang,” katanya sambil mengenakan celana dan bajunya. “Nggak usah ngantar deh.. Rani pulang sendiri ya..”
Aku masih termangu menatapnya.
“Hai..” Rani mencium keningku.
“Jangan bengong gitu dong.. jelek akh.. tuh.. pakai bajunya..!”
“Aku antar kamu pulang!” kataku tegas.
Rani menatapku, bola matanya tajam menatap.”Kita harus bicara Ran, aku nggak bisa terus-terusan begini..” ujarku.
“Oke.. oke, kalau kamu nggak bisa, bukan berarti aku harus kau paksa Val,” suaranya meninggi.
“Hai, kenapa kamu emosi sih?” tanyaku sambil memegang pipinya.
Rani menepis tanganku.
“Aku sayang kamu Val, aku cinta kamu, tapi aku nggak suka cara kamu memaksaku..”
Rani berlari menghempaskan pintu kamar kostku.
“Ran.. tunggu..!”
Sia-sia teriakanku, tidak mungkin aku mengejarnya. Apa kata orang satu kost, ketahuan deh berantemnya. Akh wanita, makhluk yang tidak pernah bisa kumengerti.
Bogor, Februari 1997
Rani menghampiriku dengan wajah berlipat di kantin kampusku.
“Hai Val..” sapanya sambil duduk di sampingku, “Bagi satunya?” Rani mengambil rokokku yang terletak di meja, aku mengangguk.
“Dari mana Ran?” tanyaku sambil merapikan diktatku di meja.
“Cari Rio..” jawabnya sambil menarik nafas dan menghembuskan asap rokoknya.
“Kelihatannya BT amat sih?” tanyaku, “Ada masalah lagi ya?”
Rani mempermainkan rokok di tangannya.
“Tau akh..” jawabnya.
Aku jadi malas melanjutkan pertanyaanku, aku sudah kenal Rani lama sejak masih tingkat satu. Aku hafal sifatnya, kalau ditanya terus bisa pecah perang dunia ketiga deh, bisa-bisa aku yang jadi korban, nanti juga pasti dia cerita sendiri. Lama kami saling membisu, aku pura-pura menyibukkan diri dengan meneruskan catatan kecilku untuk bahan skripsi.

Sumber