LiputanDewasa - Aku seoarang karyawan swasta umurku 29 tahun namaku Dinto, aku orangnya supel mudah bergauldengan siapa saja, dilingkunganku bekerja aku mendapat perhatian karena badanku yang atletis dengan postur tubuh tinggi 170 cm berat 68 kg masih single, tidak susah untuk mencari teman apalagi teman kencan hehe.

Ada salah satu wanita yang menyita perhatianku saat akau bekerja yaitu namanya Nadine, dengan sifat yang luwes dan kalau diajak ngobrol enak, dia ditempatkan oleh pimpinannya sebagai marketing, duklu dia satu bagian denganku.
Awal tahun yang lalu Nadine melangsungkan pernikahannya dengan seorang teman kuliahnya. Walaupun sekarang sudah menikah, Nadine tetap seperti yang dulu, luwes dan anggun. Walaupun postur tubunya bukanlah tipe seorang yang bertubuh tinggi dan langsing, tapi dia memiliki kharisma tersendiri.
Dengan kulit yang putih, payudara sekitar 34 serta betis yang indah, senyumnya yang menawan, tidak mengherankan bila menjadi perhatian para lelaki. Kedekatan diriku dengan Nadine berawal sejak dia bekerja pada bagian yang sama denganku 3 tahun yang lalu.
Sejak dia pindah bagian (lantai berbeda walaupun dalam satu gedung) dan menikah, aku jadi jarang sekali bertemu. Paling hanya berbicara melalui telpon atau saling kirim email. Kami sering bercakap-cakap mengenai kDintor dan kadang-kadang menjurus ke hal yang pribadi.
Karena Nadine kadang-kadang berkeluh kesah mengenai masalah-masalah kantor, yang sering membuat pikirannya cemas. Dan hal itu terbawa dalam keluarga. Rasa cemas Nadine terkadang memang berlebihan, yang membuat sampai awal tahun 2004 ini belum ada tanda-tanda bahwa dirinya hamil.
Setiap ada anggota keluarga atau temannya yang bertanya mengenai hal itu, menambah gundah dirinya. Segala upaya termasuk konsultasi kepada dokter sudah dilakukan, tetapi hasilnya tetap nihil. Rasa cemas dan bersalah timbul pada diri Nadine, karena selalu menjadi bahan pertanyaan khususnya dari pihak keluarga.
Aku sering kali memberi semangat dan dukungan kepadanya untuk selalu belajar menerima apa adanya dalam situasi apapun. Bila ada sesuatu pikiran yang membuat gundah Nadine, aku selalu dapat membuat dirinya lupa dengan masalahnya.
Aku selalu dapat membuat dirinya tertawa, dan terus tertawa. Pernah suatu ketika, Nadine tertawa sampai berlutut dilantai sambil memegang perutnya karena tertawa sampai keluar air mata dan sakit perut!! Suatu hari (aku lupa persisnya) minggu ke 2 di bulan Februari 2014 yang lalu, Nadine menelponku melalui HP. Pada saat itu aku baru saja sampai di rumah, setelah seharian bekerja. Haloo Nitaa.. Lagi dimana lu Tumben nih malem-malem nelpon, hehehehe.. kataku kemudian. Lagi di rumaah.
Lagi bengong-bengong, laper and cuapek buanget nih, tadi gue ada meeting di Kuningan (jalan kuningan-Jakarta) dari siang, lu sendiri masih dikDintor kata Nadine kemudian. Nggak laah, baru aja sampai di rumah. Eh, lu dirumah bengang-bengong ngapain sih Emang di rumah lu kaga ada beras, sampai kelaperan gituh candaku kemudian. Disana Nadine terdengar tertawa renyah sekali, Hehehehe..
Emang benar-benar nih anak!! Gue capek karena kerja! Terus belum sempet makan dari pulang kantor!! Ooo, gitu. Gue kira lu capek karena jalan kaki dari kuningan ke rumah! kataku kemudian. Eee, enak aja!! Ntar betis gue besar sebelah gimana Lhaa kan, tadi gue bilang jalan kaki, bukan ngangkat sebelah kaki terus loncat-loncat Kenapa betis lu bisa besar sebelah Disana Nadine hanya bisa tertawa, mendengar kata-kataku tadi. Sudah lu istirahat dulu Nit, jangan lupa makan, mandi biar wangi.
Seharian kan sudah kerja, capek, ntar kalau lu dikerjain ama laki lu gimana, sementara sekarang aja lu masih capek aku bicara seenaknya saja sambil meneguk minuman juice sparkling kesukaanku. Kalau itu mah laeen.. Gue enjoy aja!! Nggak usah mandi dulu laki gue juga tetep nempel.
Lagian sekarang laki gue nggak ada, kok. Lagi ke Australia.. kata Nadine kemudian. Ke Autralia Wah, enak amat! Gini hari jalan-jalan kesono sendirian, lu kok kaga ikut Ngapain Nit, beli kangguru ya tanyaku seenaknya. Eh, ni anak dodol amat sih!! Urusan kantornya lah!! kata Nadine sengit, sementara aku hanya cekikikan mendengar Nadine berkata sengit kepadaku. So anyway, seperti pertanyaan gue tadi, lu tumben Nit, malem-malem gini telpon. Baru kali ini kan tanyaku. Iya, gue mau ngobrol aja ama lu.
Abis disini sepi.. nggak ada yang bisa diajak ngomong lalu Nadine menceritakan apa-apa saja yang menjadi pembicaraan dalam meeting tadi. Seperti biasa, aku diminta pendapat dalam masalah kDintor yang sedang ditangani, dalam sudut pandang aku tentunya.
Tak terasa, kami berbicara sudah satu setengah jam yang kemudian kami berniat mengakhiri, dan berjanji akan di teruskan esok harinya di kantor. Sebelum aku menutup telpon, tiba-tiba Nadine menanyakan sesuatu kepadaku, Eh, gue mau tanya dikit dong, boleh nggak Tapi kalau lu nggak mau jawab, nggak apa-apa.. Apa tanyaku kemudian. Maaf Nto, kalau gue boleh tanya, Hmm..
Lu pernah ML nggak. Mendengar pertanyaan seperti itu aku sedikit kaget, karena walaupun pembicaraan aku dan Nadine selalu apa adanya dan kadang bersifat pribadi, tapi belum pernah seperti ini. Ngg, pernah.. Kenapa Dintanyaku ingin tahu. Nggak, cuma tanya doang.. Lu pertama kali ML kapan, pasti ama cewe lu yah tanya Nadine.
Gue pertama kali ML waktu SMA, sama teman bukan ama cewe gue, lu sendiri kapan Mendengar jawaban ku tadi Nadine langsung berkata,,,,,,,,Baca Selengkapnya di >> LiputanDewasa.com