Cerita Dewasa Bu Farida – Hari itu Hamid baru pertama kalinya memasuki kompleks perumahan baru di Citra Kencana, dia adalah guru sekolah menengah yang honornya sama sekali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi ditambah setelah berkeluarga dan mempunyai anak bayi. Meskipun istrinya ikut membantu dengan membuat pelbagai makanan snack serta kue-kue kering, namun kebutuhan yang meningkat hanya dapat tertutup kalau di luar jam mengajarnya Hamid memberikan ekstra les.

Untunglah di dalam masyarakat Indonesia yang sangat unik peranan ilmu exakta serta bahasa asing mendapatkan tempat tersendiri. Anehnya adalah kemahiran bahasa asing, terutama bahasa Inggris, jauh lebih dihargai daripada bahasa Indonesia sendiri. Bukan hanya orang dewasa merasa sangat bangga jika mampu berbahasa Inggris sehingga bisa mengobrol dengan orang bule di mall atau plaza, anak sekolah dasar pun dipacu oleh orang tuanya untuk ngeles ekstra bahasa Inggris.

Oleh karena itu Hamid hari ini memperoleh kesempatan untuk memberikan les ekstra di perumahan Citra Kencana di kawasan luar Jakarta. Dengan motornya Hamid melewati gardu penjagaan, dan sebagaimana umumnya ia harus membuktikan diri dengan KTP yang selalu dibawanya, setelah itu ditanya maksudnya memasuki kompleks cukup besar itu.

“Saya mau memberikan les pelajaran kepada murid kelas saya,” demikian Hamid ketika ditanya oleh satpam penjaga gardu.
“Siapa nama orang tuanya dan dimana alamatnya?” lanjut satpam itu bertanya sambil mengawasi Hamid dengan tajam.
“Murid saya namanya Andy, nama keluarganya Kurniawan. Tapi saya dipesan oleh ibunya ditelpon tadi bahwa kalau ditanyakan oleh satpam bilang saja mau ke rumahnya ibu Farida,” sahut Hamid.
“Ooh, kalau begitu mau ke ibu Farida. Ya silahkan, mas,” suara satpam yang semula dingin galak mendadak berubah menjadi lunak,
“tapi KTP-nya ditahan dulu, nanti pulangnya boleh diambil.”
“Oh gitu. Iya, pak, terima kasih. Sampai nanti,” Hamid menyalakan lagi motornya dan sebelum meluncur maju masih sempat dilihat nama yang tertera di dada sang satpam : Tohir.

Agak bingung juga Hamid mencari alamat yang telah dicatatnya di sepotong kertas dan setelah ia dua kali berhenti serta menanyakan jalan di sebuah toko roti dan kepada petugas kebersihan di situ, barulah akhirnya ditemukan rumah muridnya, Andy.

Sumber