Cerita Dewasa Aku Suamiku dan Anakku Takkan ada yang menyangka jika dalam keluarga kami terjadi adegan hubungan seksual antara anak, ibu dan ayahnya sendiri yang akan aku ceritakan ini. Perkenalkan namaku Rina. Aku sudah menikah dan memiliki seorang putri tunggal, Fara namanya. Umurnya kini sudah 14 tahun dan duduk di kelas 2 SMP. Usianya yang sudah beranjak remaja telah membuat dirinya tampak menarik. Wajahnya yang cantik dan imut menjadi nilai lebih darinya. Umurku sendiri baru 35 tahun, sedangkan suamiku, Mas Alan, 38 tahun.

Ada sebuah pengalaman yang tak dapat kulupakan dalam ingatanku. Waktu kecil dulu aku pernah diam-diam melihat ibuku ngesex dengan kakekku, ayah kandung ibuku sendiri. Aku tidak tahu apa yang membuat ibu dan kakek melakukan hubungan seperti itu, aku yang juga tidak tahu harus berbuat apa akhirnya memilih diam. Namun ternyata kejadian itu bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Kakekku dulu memang tinggal bersama dengan kami sehingga memungkinkan mereka berbuat seperti itu berulang-ulang di saat ayahku tidak di rumah.

Kini saat sudah memiliki putri, aku sering membayangkan kalau suamiku bersetubuh dengan anak gadis kami. Membayangkan bagaimana suamiku menggenjot anak gadisnya sendiri sampai anak gadis kami ini hamil olehnya. Tentu saja itu merupakan khayalan gila dari seorang ibu terhadap anak dan suaminya sendiri. Bagaimana bisa seorang ibu punya pikiran semacam itu!? Namun hal tersebut sangat membangkitkan gairahku. Bahkan aku sering bermasturbasi karena tidak tahan dengan khayalan gilaku ini.

Saat aku berhubungan badan dengan suamiku, aku juga menganggap kalau aku ini adalah Fara, anak gadisnya. Hal itu membuatku orgasme lebih cepat. Selain itu, saat aku pergi ke pasar dan meninggalkan mereka berdua di rumah, aku juga sering membayangkan kalau mereka bersetubuh di belakangku selama aku pergi. Aku jadi berdebar-debar sendiri selama di pasar karena memikirkannya.

Seiring waktu, hanya dengan membayangkan tidak cukup lagi bagiku. Kini aku betul-betul berharap mereka berzinah, melakukan hubungan badan sedarah antara ayah dan anak gadisnya. Akupun berusaha menciptakan situasi-situasi agar suami dan anakku menjadi tertarik satu sama lain. Aku sampai membelikan putriku pakaian-pakaian yang seksi, lalu mengajarinya cara berpakaian yang membuat lekuk tubuhnya tercetak. Tanktop dan celana pendekpun menjadi pakaiannya sehari-hari bila di rumah. Fara tidak masalah dengan cara berpakaian yang ku ajarkan, malah dia sangat menyukainya.

Sumber