Tim sudah terbentuk, tapi dana untuk berangkat belum didapat. Rumah Cemara terus mencari simpati dan donasi agar Indonesia tetap bisa tampil di Homeless World Cup (HWC) 2014.

Delapan pemain terpilih, yang direkrut lewat program road show di 9 kota di Indonesia, mulai berkumpul di Bandung. Mereka akan segera menjalani persiapan --istilah kerennya, training camp--, selama 1,5 bulan sampai menjelang HWC digelar 19-26 Oktober di Santiago, Chile.

Hanya saja, hingga kini belum ada garansi "tim nasional" ini bisa mengikuti turnamen streetsoccer tersebut. Penyebabnya adalah masalah klasik: dana.

"Kebutuhan kami lebih untuk tiket transportasi pesawat PP. Jumlahnya sekitar Rp 375 juta, untuk tim yang terdiri dari 13 orang: 8 pemain plus 5 pelatih dan ofisial. Kalau dana kurang, setidaknya kami berharap tetap bisa mengirim batas minimal pemain dalam satu tim: 4 orang, tanpa cadangan, tanpa ofisial," tutur manajer tim, Febby Arhemsyah.

Kegigihan untuk bisa terbang ke Chile bukan semata-mata buat kepentingan saat ini, melainkan jangka panjang. Febby khawatir, jika Indonesia absen di tahun ini, jatah di tahun-tahun berikutnya bisa menguap karena dianggap tidak mampu, sedangkan banyak negara antre ingin mengikuti turnamen ini.

Indonesia sendiri cukup dipandang di ajang tersebut. Di debutnya di tahun 2011 di Paris, anak-anak "Merah Putih" finis di peringkat keenam dan meraih penghargaan sebagai tim pendatang baru terbaik (best new comer). Seorang pemainnya juga terpilih sebagai player of the tournament.

Di tahun 2012, prestasi tim Indonesia meningkat, menjadi semifinalis dan menduduki urutan keempat dunia. Gelar pelatih terbaik juga dibawa pulang ke tanah air. Berkat prestasi tersebut tim Rumah Cemara diundang dan tampil di acara talkshow stasiun televisi nasional, Kick Andy.

Tahun lalu Indonesia kembali berpartisipasi di Polandia, tapi langkahnya terhenti di babak perempatfinal, setelah dikandaskan juara bertahan kala itu, Chile.

Ironisnya, meskipun selalu mengusung nama negara, mereka selalu berbenturan dengan kendala dana. Tahun ini, kata Febby, baru empat perusahaan yang bersedia membantu menjadi sponsor mereka, yaitu Bank Jabar Banten (BJB), Pertamina, (tas) Export, dan Vamos.

"Kami masih kekurangan dana untuk berangkat, karena program kami 'kan dimulai dari road show sampai training camp. Tapi kami tidak mau menyerah, kami akan melakukan apa saja yang kami bisa untuk mengatasi masalah ini," sahut Febby.

Ia mengatakan, sejauh ini baru ada satu instansi pemerintah yang berjanji ingin membantu, tapi sampai saat ini belum ada kejelasannya lagi.

"Kami rencananya akan bikin 'garage sale'. Kami akan berjualan merchandise, kaus, topi, atau apa sajalah. Beberapa teman juga bersedia membantu penggalangan dana ini," ungkap Febby.

Grup musik The Changcuters, misalnya, berencana membuat konser sederhana saat berulang tahun pada 19 September mendatang di Bandung, dan mereka akan membuat sesi lelang untuk tim HWC Indonesia.

Demikian halnya dengan pesepakbola klub Persib Bandung, Ferdinand Sinaga. Ia berjanji akan mendorong rekan-rekannya untuk menyumbangkan apa saja yang bisa dilelang, dan uangnya bisa dipergunakan untuk membantu membiayai keberangkatan tim ke Chile.

"Saya merasa teriris, sebuah timnas Indonesia masih harus pontang panting cari dana sendiri. Mereka sudah merasa terpinggirkan, tapi masih mau menunjukkan prestasi lewat olahraga, namun tidak ada bantuan," ucap Ferdinand.

"Saya siap membantu dengan yang saya bisa, dan berharap semoga timnas ini bisa berangkat dan tampil baik di Chile. Menurut saya, ini kesempatan bagus buat mereka menunjukkan pada dunia, bahwa mereka bisa berubah. Kesempatan juga untuk bilang, 'Ini lho, orang yang kalian sisihkan tapi punya prestasi'. Buat saya ini luar biasa," sambungnya.

Pemain-pemain HWC adalah mereka dengan latar belakang ODHA (pengidap virus AIDS/HIV), (eks) pemakai narkoba, dan miskin secara ekonomi. Diharapkan, melalui sepakbola mereka bisa melakukan perubahan untuk kehidupannya.

"Alhamdulillah, sebagian besar pemain HWC kita telah mendapatkan semangat lebih baik untuk mengubah hidupnya. Ukuran hidup yang lebih baik itu tidak mesti materi ya. Tapi saat ini mereka sudah punya pekerjaan, berkeluarga, ada yang punya usaha sendiri, terbebas dari kecanduan mereka, ada pula yang masuk timnas futsal, dan lain-lain," terang Febby.

POSTED BY : BANDAR BOLA