Cerita Seks Rini Kusumawardhani – Hujan turun lebat sekali penglihatan sedikit kabur karena kaca mobil tertutup embun yang menempel dikaca depan. AC kunyalakan walaupun udara terasa dingin menusuk tulang. Saat itu sudah jam 7.30 pagi jadi sudah tak mungkin lagi menunda untuk berangkat kekantor apalagi jam 8.00 ada janji meeting dengan client.

Mobil kujalankan pelan dan sangat hati hati, maklum jalan didepan rumah tidak begitu lebar dan berlubang. Dari rumah ke jalan raya tidaklah begitu jauh setelah satu tikungan kekiri maka akan kelihatan sebuah kaca spion besar warna merah diperempatan jalan dan itulah jalan raya yang akan membawa arah perjalananku menuju kantor.

Persis ditikungan sebelah kiri didepan sebuah wartel seseorang melambaikan tangan meminta aku berhenti untuk minta tumpangan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena terhalang hujan yang sangat deras, tetapi dia berambut sebahu dan berseragam SMU.

Mobil kupelankan, dan tanpa tunggu aba aba lagi dia lansung membuka pintu depan dan duduk disebelahku.

“ Ma’af Om saya kehujanan, dari tadi nunggu angkot penuh melulu… ya dari pada terlambat terpaksa mobil Om aku stop, sorry ya Om “. Dia berkata polos sambil mengibaskan rambutnya yang menempel di kerah baju karena basah.

Sekilas tanpa sengaja tengkuknya kelihatan, putih … bersih .. dan ditumbuhi rambut rambut halus yang mebentuk satu garis lurus ditengahnya.

“ Ngak apa apa kok, memang hujan hujan begini angkotnya jadi sulit, apalagi diujung jalan sana biasanya kan banjir, jadi sopir angkot jadi enggan lewat sini”. Aku menjawab seadanya sambil kembali konsentrasi melihat jalan yang sudah digenangi air hujan.
“ Om kantornya dimana ? “ dia memecah kesunyian.
“ Di daerah kuningan, memangnya kamu sekolah dimana ? “ aku bertanya sambil melirik wajahnya.

Wow rupanya seorang bidadari kecil sedang duduk disebelahku, wajahnya sungguh cantik. Bibirnya tipis kemerahan, hidungnya runcing dan mancung sedangkan alis matanya hitam melengkung tipis diatas matanya yang bulat bersinar.

Sumber