Isu kandidat pengisi lowongnya geladak kepelatihan Manchester United turut menyeret nama Josep “Pep” Guardiola. Namun siap-siap saja publik di Inggris dan terutama di Old Trafford untuk kecewa jika mendambakan Pep bisa menggantikan David Moyes yang baru dipecat.

Pep sendiri menyampaikan pernyataan senada dengan koleganya yang juga arsitek tim rival Borussia Dortmund, Jürgen Klopp, yang sebelumnya menolak spekulasi suksesor Moyes di Teater Impian.

Eks-pembesut Barcelona itu masih ingin menikmati masa-masa kepelatihannya di Bayern Munich, sembari terus mencari celah demi celah guna mengembangkan lagi skuadnya di era puncak belakangan ini.

“Saya berada di Bayern dan saya ingin bertahan untuk dua tahun ke depan di sini. Kami sudah memenangkan Bundesliga, tapi saya merasa tim kami masih bisa berkembang. Saya sudah hapal gaya bermain di Spanyol, tapi saya harus berubah terhadap budaya dan ide-ide baru di Jerman dan saya masih butuh waktu untuk merasakan bahwa ini benar-benar tim saya,” ungkap Pep.

“Saya sekarang merasa Bayern adalah tim saya, tapi saya pikir kami masih bisa bermain lebih baik dan masih banyak pekerjaan rumah. Saya nyaman di sini. Orang-orang di Bayern punya kepribadian yang gentle dan setelah Bayern, saya tak tahu apa yang akan terjadi,” lanjutnya coba membuka segala kemungkinan masa depannya.

Namun Pep yang hadir dalam konferensi pers jelang leg pertama semifinal Liga Champions kontra Real Madrid dini hari nanti, sempat disela pers officer Bayern,: “Bilang pada orang-orang di Inggris, tidak mungkin (Pep gantikan Moyes)!,” timpal perwakilan Bayern.

Sementara terkait pemecatan Moyes, Pep mengaku apa yang terjadi pada suksesor Sir Alex Ferguson itu bukan hal baru, melainkan sudah lazim di dunia sepakbola modern dewasa ini.

“(Pemecatan Moyes) bukan hal baru selama lima, 10 atau 15 tahun terakhir di berbagai klub besar. Jika Anda gagal, maka Anda akan terlempar ke jalanan,” sambung Pep lagi, seperti dilansir Independent, Rabu (23/4/2014).

“Jika Anda tidak menang, Anda akan selalu berada di posisi berbahaya untuk kehilangan pekerjaan. Di banyak tim besar, hanya kemenangan yang dianggap penting,” tutupnya.