Cerita Seks Keteguhan Cinta Ida Aku berumur 36 tahun dan layak dipanggil om atau lebih ektrim dipanggil bapak, pekerjaanku adalah pedagang bahan bangunan yang bekerja hanya menunggu ataupun menjaga ruko milikku yang cukup besar dan dibantu oleh 24 orang pegawaiku untuk melayani para pembeli ditambah 3 sopir khusus pengantar barang. Disamping sebagai tempat usaha juga merangkap sebagai rumah tinggal. Rukoku berlantai tiga, lantai 1 untuk tempat usaha sedangkan lantai 2 dan 3 sebagai tempat tinggal sehingga aku kalo kerja tidak pernah merasakan kemacetan jalanan Surabaya karena tinggal turun tangga udah nyampek ke my office.

Aku tinggal dengan seorang istri dan dua orang anak yang pertama laki-laki kelas 1 SMP dan yang bungsu cewek kelas 4 SD ditambah 1 pembantu dan adiknya istriku yang paling bungsu dari empat bersaudara bernama Ida , seorang pelajar kelas 2 SMU yang ikut kami untuk menemani anak-anak kami. Ida ikut kami saat ia tamat SMP. Anaknya rajin dan pintar dan itu ia buktikan dengan hasil nilai raportnya yang selalu rangking pertama. Antara istriku dan Ida kalo dibandingkan masalah face, mereka sama-sama cantik dan kuning langsat, maklum kakak beradik sehingga kecantikkannya tidak jauh berbeda termasuk tinggi badan yang sama-sama 162 cm.

Bedanya hanya masalah usia, Istriku 32 tahun, Ida baru 16 tahun dan kelincahan, istrikku orangnya lincah karena ia bekerja sebagai manager marketing suatu perusahaan yang cukup besar dan sering berangkat ke luar kota maupun luar negeri yang dituntut selain kepintaran juga kelincahan. Sedangkan Ida orangnya kalem, pendiam dan cool banget disamping itu lebih seger karena masih muda. Perbedaan yang mencolok inilah yang membuat aku diam-diam sering memperhatikan Ida. Wajahnya terlihat selalu smile meskipun dia diam. Moment yang sering kupakai memperhatikan Ida adalah waktu ia menemani anak-anakku bermain diruang santai dan aku duduk disofa pura-pura baca koran, majalah atau nonton tv.

Ia duduk di lantai sambil kakinya bersimpuh miring dan pahanya yang putih mulus pasti nampak menantang siapapun yang melihatnya. Dan yang membuat mataku malu-malu memandang adalah CD nya yang selalu kelihatan disela-sela lipatan kakinya. Rasanya pingin banget ngelus pahanya n ngelus CD trus membuka Cdnya truss mainin vaginanya trusss clitorisnya trusss nancepin pentungan dengan dua buah kelereng abadi yang setia mendapingi petunganku setiap saat.

Sumber