Kredit Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Mandiri, Bank BUMN tiga di Indonesia akan melanjutkan upaya untuk mendistribusikan Rp 20 triliun (USD 1,5 miliar) selama tahun 2015 melalui microloan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) [1]. Program ini dihentikan pada Januari tahun 2015, setelah merilis laporan yang menunjukkan bahwa non-performing loans (NPLs), mereka memiliki lebih dari 90 hari pembayaran tagihan yang jatuh tempo, berada di atas bank sentral patokan 5 persen.

KUR dirancang untuk mendorong bank-bank tradisional untuk memperluas di dalam sektor microfinance dengan memberikan jaminan pemerintah mengurangi paparan mereka terhadap kerugian dari pinjaman buruk [2]. Sementara Bank akan sumber pinjaman dana dari account internal, pemerintah telah menyisihkan Rp 1 triliun ($ 47,8 juta) untuk jaminan [3]. Sebelum penangguhan, 33 bank terlibat dalam pinjaman disbursal melalui proyek KUR, tapi berdasarkan reevaluasi AS, bank-bank 30 lain telah dihapus dari program [3].

Kembali membuka program, pemerintah mengurangi tutup pada tingkat bunga tahunan KUR pinjaman dari 22 persen menjadi 21 persen. Jumlah maksimum setiap pinjaman tanpa agunan juga telah ditetapkan di Rp 15 juta (USD 150) [3].

Oleh Caroline Zhu, penelitian Associate

Tentang Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang didirikan pada tahun 1895, menyediakan layanan tabungan dan pinjaman untuk berbagai pelanggan, dengan prioritas diberikan mikro-, usaha kecil dan menengah (UMKM). Pada tanggal 31 Desember 2014, kredit bank BRI melaporkan total aset Rp 802 triliun (USD 38,5 miliar), Rasio Laba terhadap Aktiva (ROA) 3,40 persen dan laba atas ekuitas (ROE) 17,0 persen.

Tentang Bank Negara Indonesia (BNI)

Bank Negara Indonesia, yang didukung oleh pemerintah Indonesia, didirikan pada 5 Juli 1946 untuk melayani sebagai bank sentral negara. Setelah mendistribusikan mata uang resmi pertama Indonesia, bank berubah menjadi bank pembangunan pada tahun 1949, dan kemudian bank komersial pada tahun 1955. Pada tanggal 31 Desember 2014, Bank Negara Indonesia melaporkan total aset Rp 393 triliun (USD 30,4 miliar), Rasio Laba terhadap Aktiva (ROA) 3,50 persen dan laba atas ekuitas (ROE) 14.7 persen.

Tentang Bank Mandiri

Bank Mandiri ini dibentuk pada tahun 1998 sebagai bagian dari restrukturisasi sistem keuangan nasional oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun 1999, empat BUMN Bank-Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim, dan Bapindo-yang digabung ke Bank Mandiri. Bank Mandiri menyediakan jasa keuangan untuk usaha swasta dan BUMN serta melayani dan individu. Pada tanggal 31 Desember 2014, Bank Mandiri melaporkan total aset Rp 855 triliun (USD 66.0 miliar), Rasio Laba terhadap Aktiva (ROA) 2,60 persen dan laba atas ekuitas (ROE) 20,9 persen.