Pelatih Antonio Conte sukses besar selama tiga musim menangani Juventus. La Vecchia Signora dibawanya menjuarai Scudetto selama tiga musim berturut-turut. Di tahun pertamanya melatih Juve, yaitu musim 2011-2012, klub yang bermarkas di Juventus Stadium itu mencatat hasil tidak pernah kalah dari 38 partai Serie A. Lalu di musim terakhirnya, Juventus membuat rekor baru dengan meraih 102 poin.


Antonio Conte. (Foto: Reuters/Alessandro Bianchi)

Conte juga meletakan fondasi permainan Juventus dengan skema jadul tapi efektif, yaitu 3-5-2 yang bisa berubah menjadi 3-3-4 saat menyerang. Dengan inovasinya itu dan kombinasi pemain yang cocok, Juventus merajai Italia selama tiga musim.

Sayangnya di akhir musim 2013-2014, pelatih kelahiran 31 Juli 1969 itu meninggalkan Turin. Gosip menyebutkan kalau Conte tidak suka dengan kebijakan manajemen yang enggan membeli pemain bintang. Musim ini Juve memang bermain di tiga kejuaraan besar, Serie A, Coppa Italia dan Liga Champions. Sehingga skuad yang lengkap dan kompetitif menjadi kebutuhan mutlak.

Conta hengkang, manajemen lalu menyewa Max Allegri, pelatih yang pernah membawa AC Milan Scudetto, sekaligus dinilai gagal di sana. Keraguan lalu muncul mengenai kompetensi Allegri. Fans Juventus tidak mau klub pujaan mereka mengalami degradasi prestasi karena penanganan yang salah.

Melihat perkembangan mantan klubnya, Conte malah mengaku tidak memiliki kekhawatiran. "Juventus sudah lebih maju dari musim lalu. Semua pemain senior di zaman saya, masih di sana (skuad). Plus pemain baru seperti Roberto Pereyra, Romulo dan Alvaro Morata. Termasuk pengalaman hebat yang dibawa Patrice Evra ke skuad, jelasnya seperti diberitakan di Football Italia.

Conte yang baru saja resmi menjadi allenatore timnas Italia menilai tidak ada alasan untuk merendahkan peluang Juve musim ini. Pelatih berpengalaman dan skuad kuat menjadi keyakinan Conte bahwa Juventus bakal sukses musim ini.