Melihat kondisi Liga Italia – Serie A belakangan ini dengan dua dekade silam, bak langit dan bumi. Situasinya berbalik 180 derajat. Betapa tidak, Serie A yang 20 tahun lalu selalu jadi acuan, kini malah harus meneladani liga-liga lainnya di Eropa.

Dua dasawarsa silam, industri sepakbola Inggris, Spanyol dan Jerman kerap berguru ke Italia. Keadaan sekarang berbalik, seakan Italia yang harus jadi murid untuk berguru pada Premier League, La Liga dan Bundesliga.

Hal di atas tentu jadi keprihatinan tersendiri buat Supremo Juventus, Andrea Agnelli. Di kala Juve baru mencapai rekor keuntungan 315 juta euro – dalam perhitungan terakhir pembukuan klub, tim-tim lain di Italia justru stagnan dan masih terbenam dengan krisis finansial.

Dalam peringkat UEFA terbaru, Serie A bahkan kesulitan untuk mempertahankan posisi empat, lantaran masih terancam prestise dari Liga Portugal. Sementara Liga Inggris, Spanyol dan Jerman menguasai peringkat 1-2-3 sebagai kompetisi terbaik seantero benua biru.

“Kurang dari 20 tahun lalu, Inggris, Spanyol dan Jerman melihat Italia sebagai contoh. Sekarang, kita sudah tertinggal dalam segala aspek – pendapatan, hasil dalam permainan, total penonton dan peringkat UEFA,” tutur Agnelli.

“Kami juga kesulitan mempertahankan posisi empat dari Portugal di level UEFA,” lanjutnya, sebagaimana dikutip Football-Italia, Sabtu (25/10/2014).

Tak ada pilihan lain selain bangkit. Tapi Serie A juga mau tak mau membutuhkan referensi. Premier League diakui Agnelli, sebagai contoh terbaik untuk mengembalikan prestise sepakbola Italia.

“Dulu sebuah buku dari Simon Kuper yang berjudul ‘Football Against the Enemy’, pernah menuliskan bahwa ketika fans sepakbola Inggris mencari kehidupan yang lebih baik, mereka akan pergi ke Italia, tempat di mana mereka menemukan para pemain sepakbola terbaik,” tambah Agnelli.

“Mereka juga menemukan siaran penuh di televisi dan banyaknya surat kabar soal olahraga. Cuaca di Italia juga bagus. Begitulah keadaan Italia untuk orang-orang Inggris 20 tahun lalu,” sambungnya lagi.

“Saya bukannya ingin mengungkit nostalgia. Saya mengatakan ini dengan ambisi bahwa Serie A harus bangkit untuk menjadi kiblat kompetisi lain. Untuk bangkit, Premier League sekali lagi akan menjadi titik acuan,” tutup Agnelli.

SUMBER