Cerita Sex Berebut Memek Perawan Saat aku masih umutr 17 tahun dan duduk di kelas SMA kelas 2 aku mempunyai wajah keturunan Chinese tinggiku 160 cm berat badan 47 kg, dengan rambut panjang hampir sebahu semua orang bilang kalau aku cantik dan seksi taoi dibalik semua itu aku dapat musibah tepatya hari Minggu 15 Juli, seminggu habis scara ulang tahunku yang ke 17 tahun ini.

Di hari itu aku dapat hadiah dari bapakku sebuah mobil dan mendapatkan SIM maka dari itu aku mengendarai mobilku menuju ke sekolah, karena sekolahku berangkatny siang pukul 13.00 wib pulangnya 18.30 Wib, saat jam pulang sekolah aku merasa perutku sakit terus, jadi aku ke WC dulu dan santai karena hari itu aku bawa mobilku sendir tanpa di temani oleh supirku.

Tapi yang mengherankan dan sekaligus menjengkelkan, aku harus bolak balik ke wc sampai 5 kali, mungkin setelah tak ada lagi yang bisa dikeluarkan, baru akhirnya aku berhenti buang air. Namun perutku masih terasa mulas. Maka aku memutuskan untuk mampir ke UKS sebentar dan mencari minyak putih.

Sebuah keputusan fatal yang harus kubayar dengan kesucianku. Aku masuk ke ruang UKS, menyalakan lampunya dan menaruh tas sekolahku di meja yang ada di sana, lalu mencari cari minyak putih di kotak obat.

Setelah ketemu, aku membuka kancing baju seragamku di bagian perut ke bawah, dan mulai mengoleskan minyak putih itu untuk meredakan rasa sakit perutku. Aku amat terkejut ketika tiba tiba tukang sapu di sekolahku yang bernama Hadi membuka pintu ruang UKS ini.

Aku yang sedang mengolesi perutku dengan minyak putih, terkesiap melihat dia menyeringai, tanpa menyadari 3 kancing baju seragamku dari bawah yang terbuka dan memperlihatkan perutku yang rata dan putih mulus ini. dan belum sempat aku sadar apa yang harus aku lakukan, ia sudah mendekatiku, menyergapku, menelikung tangan kananku ke belakang dengan tangan kanannya, dan membekap mulutku erat erat dengan tangan kirinya.

Aku meronta ronta, dan berusaha menjerit, tapi yang terdengar cuma ?eeemph? eeemph??. Dengan panik aku berusaha melepaskan bekapan pada mulutku dengan tangan kiriku yang masih bebas.

Sumber