Cerita Ngentot Mengamenlah Diatas Ranjangku – Kisah ini bermula pada saat aku pulang kantor. Namun sebelum itu, aku perkenalkan diri dahulu, namaku Idan, itu hanya nama panggilan, dan tak usah ku sebutkan jelasnya. Umurku 28 tahun, dan di umur ini, aku telah meraih S2 dan bekerja menjadi manager di sebuah perusahaan di Bandung Hidupku lumayan berkecukupan, rumah yang cukup besar di sebuah kompleks, dan mobil pribadi merupakan raihan atas kerja kerasku. Namun, meski sudah banyak yang kuraih, aku belum juga memiliki istri. Bukan tidak laku, wajahku yang lumayan dan tubuhku yang juga lumayan, banyak perempuan yang mendekati. Namun, pengalaman burukku dengan mantan kekasih yang meninggalkanku tanpa alasan, menjadikan aku trauma untuk berpacaran. Walhasil aku tak juga dapat calon istri.

Namun, meski begitu, namanya laki-laki memiliki birahi yang cukup tinggi. Bahkan, aku rasakan birahiku sangat tinggi, hampir setiap hari, harus saja aku keluarkan mani ku sendiri. Sampai lima kali, baru aku benar2 puas. Karena di rumah hanya sendirian, kadang ketika santai aku tak pakai baju maupun celana di rumah. Coli pun bisa kulakukan bebas dimana saja. Kadang di depan tv, kamar, dapur dan dimanapun aku mau. Namun, aku tak jua berkehendak memiliki pacar atau istri, “jajan” juga tak pernah, aku hanya bisa bermain sendiri. Sampai umurku yang segini, aku hanya pernah satu kali ML, dengan pacarku yang akhirnya memutuskan pergi. Kadang terpikir untuk jajan, karena untuk pacaran aku malas, tapi selalu buru2 ku urungkan niatku untuk soal itu.

Namun kehidupanku berubah sejak saat pulang dari kantor, sore itu. Ketika ku pacu kuda besiku di jalan menuju pulang, aku sempat terhenti oleh kemacetan di perempatan. Saat itu, banyak sekali peminta-minta mendatangi mobilku. Aku memberikan receh ke setiap peminta-minta yang datang. Lalu, kemudian aku didatangi oleh seorang pengamen. Ia seorang gadis, suaranya merdu dan kelihatan lihai memainkan gitarnya. Meski dengan baju yang kumal, aku melihat ada kecantikan yang tersembunyi dibalik debu-debu yang menempel di mukanya. Ia kelihatan pucat seperti sakit, namun tetap mengamen dengan sepenuh hati.

Sumber