Musim lalu berlangsung sedemikian buruk untuk Manchester United. Musim ini optimisme hadir lagi meski masih harus ditunggu apakah awan kelabu itu benar-benar akan sirna.

Posisi tujuh ditempati MU di papan klasemen akhir Premier League musim lalu. Ini merupakan posisi finis terburuk dari The Red Devils di ajang tersebut sejak 1990 lampau. Untuk kali pertama sejak 1981/1982--mengecualikan hukuman untuk klub-klub Eropa tampil di kancah Eropa akibat tragedi Heysel--MU pun harus rela absen dari kompetisi antarklub Eropa.



Di ajang-ajang lain, performa MU juga tak menuai sukses: tersingkir di babak ketiga Piala FA, kandas di semifinal Piala Liga Inggris, dan terhenti di perempatfinal Liga Champions. Tercatat hanya ajang Community Shield yang dapat dimenangi.

Belum genap semusim, tepatnya 22 April 2014 atau dengan empat laga tersisa, MU pun memberhentikan David Moyes yang dinilai gagal meneruskan estafet kesuksesan sepeninggal Sir Alex Ferguson--di antaranya 13 kali menjuarai Premier League dan dua kali memenangi Liga Champions. Moyes menyudahi karier sebagai manajer MU usai 51 laga, dengan catatan 27 kemenangan, sembilan kali seri, dan 15 kekalahan. Di era Moyes itu pula 'Setan Merah' mencatatkan total poin paling rendahnya di era Premier League dan rekor kandang terburuknya sejak 1978.

Biasa tak jauh-jauh dari kesuksesan di era Sir Alex, apa yang terjadi musim lalu tentu membuat kubu MU--termasuk para suporternya--seperti jatuh terhempas amat keras.

Maka ketika Louis van Gaal--manajer asal Belanda yang pernah menjuarai titel liga di Belanda, Spanyol, dan Jerman--ditunjuk sebagai manajer anyar untuk musim 2014-15, Old Trafford seperti sedang menyambut secercah harapan baru.

Kedatangan Van Gaal pun disambut gegap gempita MUTV, stasiun televisi in-house dari United, lewat sebuah video--yang oleh sejumlah pihak disayangkan karena dinilai terlalu mengolok-olok Moyes