Skema permainan tiga bek sejajar dalam formasi 3-5-2 Louis van Gaal yang diterapkannya di Manchester United, ternyata tidak memberi hasil baik. Buktinya, United kalah 2-1 atas Swansea City di laga pembuka Premier League musim ini.


Louis van Gaal terapkan formasi 4-3-3 dan 3-5-2 untuk Manchester United (FOTO: REUTERS)

Eks pelatih Timnas Belanda ini pun sempat mengubah formasinya menjadi 4-3-3 untuk menambah daya gedor tim, setelah tertinggal satu gol, melalui gol Ki Sung Yeung. Meski sempat menyamakan kedudukan melalui Wayne Rooney, namun The Swans berhasil menutup laga dengan meraih tiga poin melalui gol kemenangan Gylfi Sigurdsson.

“Saya memutuskan untuk mengganti formasi di babak pertama. Swansea bermain melebar, dan kami harus memberikan tekanan di depan, jadi formasi 4-3-3 sistem terbaik untuk menekan. Pada awalnya, kami melakukan dengan baik, mencetak gol dan memiliki kesempatan untuk membuat keadaan berbalik 2-1, namun kesempatan itu tak cukup jika Anda tak mencetak gol,” terang Van Gaal, disadur dari Goal, Minggu (17/8/2014).

Meski kalah, Van Gaal melihat bahwa United dapat bermain dengan kedua formasi tersebut, dan akan menerapkannya musim ini. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa bermain dengan otak sebagai satu tim juga dibutuhkan, ketimbang hanya berlari mengejar bola.

“Saya pikir kami dapat memainkan kedua sistem tersebut. Anda telah melihatnya di babak pertama, kami tidak bermain dengan baik dan tertinggal, karena itulah saya mengganti sistem permainan tim. Dan sistem ini selalu dimainkan di Manchester United,” lanjut Van Gaal.

“Saya melakukan segalanya untuk menang, dan para pemain saya bekerja keras dan luar biasa menunjukkan mental mereka. Namun mencapai level permainan terbaik, merupakan hal yang berbeda, tidak hanya berlari namun juga menggunakan otak Anda dan baru Anda dapat bermain sebagai tim, itulah yang gagal hari ini (melawan Swansea),” tuntasnya.