Musim ini jadi musim kedua José Mourinho, juga pada rezim keduanya di Chelsea. Percaya atau tidak, jika melihat detail taktik yang diusung The Happy One musim ini, nyaris 100 persen persis dengan apa yang diterapkannya satu dekade silam.

Kemungkinan besar, Mou – sapaan Mourinho, ingin sekali mengulang prestasi yang sama dengan taktik yang identik ketika meraup banyak gelar dari 2004 sampai 2007, dengan koleksi masing-masing dua gelar Premier League dan Piala Liga, serta satu trofi FA Cup, dan Community Shield.


Sejumlah kebijakannya musim ini juga persis. Contohnya di musim panas 2004 silam, Mou melepaskan dua pemain veteran yang bertahun-tahun jadi idola fans, Jimmy Floyd Hasselbaink dan Marcel Desailly, guna menyediakan ruang untuk duo baru asal Portugal, Ricardo Carvalho dan Paulo Ferreira.

Begitupun di sektor kiper, di mana Carlo Cudicini, digusur dengan prospek muda menjanjikan, Petr Cech. Hernán Crespo juga turut jadi tumbal kedatangan Didier Drogba.

Musim ini? Giliran Cech yang digeser Thibaut Courtois dan Samuel Eto’o yang jadi korban kedatangan Diego Costa. Sebagaimana satu dasawarsa silam, Mou paling jarang mengutak-atik dua gelandang tengahnya dengan formula 4-2-3-1.

Nemanja Matic dan Francesc Fŕbregas selalu jadi pilihan utama – ketika keduanya 100 persen bugar. Mengingatkan kita pada duet Claude Makélélé dan Frank Lampard di musim 2004-2005.

Mou juga gemar membangun penopang serangan buat bomber tunggalnya di sektor sayap. Sepuluh tahun lalu, Mou punya Arjen Robben dan Damien Duff. Sekarang, Mou diperkaya Eden Hazard dan André Schürrle, untuk membuka ruang buat Costa yang hingga saat ini, sudah mengantongi sembilan gol.



SUMBER