Si Bibi, pembantu di rumah saya, hidupnya memang susah. Dia punya suami yang pengangguran yang kerjanya hanya duduk-duduk saja di rumah. Hanya dia sendiri yang bekerja mencari nafkah untuk biaya hidup sehari-hari, untuk biaya kontrakan rumah, untuk bayar listrik, dan lain-lain (pembantu di rumah saya tidak menginap, dia datang pagi dan pulang pada sore hari). Kadang-kadang dia ikut pula membantu biaya anak dan menantunya yang belum bisa hidup mandiri.
Sebenarnya saya menggaji dia lebih dari cukup, yaitu di atas gaji rata-rata pembantu di lingkungan tempat tinggal. Itu belum termasuk bonus-bonus dan uang tambahan lain kala saya mendapat tambahan rezeki. Tetapi, dengan gaji yang “hanya” segitu dia harus mencukupi sendiri kebutuhan hidup keluarganya tentu saja tidak pernah ada kata cukup. Selalu saja kurang. Saya pun tidak bisa menggaji dia lebih tinggi lagi sebab hal itu dapat menimbulkan kecemburuan sosial bagi para pembantu lain di kompleks perumahan kami karena “merusak” standard gaji pembantu rumah tangga yang udah pakem. Menyedihkan lagi gaji pembantu rumah tangga di Indonesia selalu berada di bawah UMR. Belum ada regulasi tentang pembantu rumah tangga di Inodonesia.
Si Bibi dan orang-orang kecil lainnya yang hidup susah adalah contoh orang-orang Indonesia yang terjebak oleh apa yang dinamakan dengan “kemiskinan struktural”. Ini adalah jenis kemiskinan yang melilit sebagian besar penduduk negeri yang besar ini. Biarpun mereka sudah bekerja membanting badan setiap hari, mereka tetap saja miskin. Penghasilan mereka setiap hari atau setiap bulan tidak pernah bertambah, selalu segitu-gitu saja. Mereka tidak punya pilihan untuk mengubah nasib. Hal ini berbeda dengan orang-orang kaya yang selalu mempunyai peluang untuk menambah penghasilan dari berbagai pekerjaan, proyek, lobi-lobi, entah itu halal atau haram. Yang kaya bertambah kaya, yang miksin terap saja miskin.
Nah, bagi si Bibi hanya satu jalan keluar untuk melepaskan diri dari jerat kemiskinan, yaitu menjadi TKI di luar negeri. Pilihannya jatuh menjadi TKI di negara Arab. Menjadi TKI adalah pilihan terakhir yang banyak dilakukan oleh perempuan-perempuan desa yang dililit kemiskinan. Untuk menjadi TKI mereka tidak perlu mengeluarkan uang sebab semua biaya (pelatihan, paspor, visa, tiket pesawat, hingga penempatan di luar negeri) ditanggung oleh PJTKI. Nanti setelah mereka mendapat majikan di luar negeri, mereka harus mencicil pembayaran ke PJTKI yang diambil dari seperempat gaji selama 6 bulan hingga setahun tergantung perjanjian. Maka tidak mengherankan kalau bisnis TKI adalah bisnis yang menggiurkan karena para TKI adalah “sapi perahan” PJTKI.
Kembali ke si Bibi tadi. Mengapa dia memilih menjadi TKI di negara-negara Arab? Tidak takutkah dia dengan cerita-cerita mengenaskan tentang TKI yang diperkosa atau disiksa oleh majikan atau anak majikan? Bagi segelintir orang Indonesia citra negara Arab terkesan buruk karena kasus-kasus yang menimpa TKI yang umumnya perempuan. Apalagi jika dikaitkan dengan agama segala, karena Arab diidentikkan dengan negara muslim. Padahal sebagian orang Arab masih mempunyai sisa-sisa perilaku zaman jahiliyah yang menganggap pembantu adalah budak yang dapat diperlakukan apa saja.
Tetapi, sesungguhnya kasus perkosaan dan penyiksaan terhadap TKI tidak hanya terjadi di Arab saja, di Malaysia dan Singapura intensitas kasus ini juga cukup tinggi. Menariknya lagi, kasus penyiksaan terhadap pembantu dari Indonesia di Malysia atau Singapura justru dilakukan oleh majikan etnis Cina yang kebanyakan beragama Budha atau Khong Hu Chu. Orang Melayu di Malaysia sangat jarang menggunakan pembantu. Jadi, sangatlah tidak adil mengaitkan kasus perkosaan dan penyiksaan perempuan TKI dengan faktor agama atau etnis. Cukup banyak kisah-kisah sukses TKI yang mendapat majikan yang baik di Arab, Malaysia, atau Singapura.
Tekad si Bibi sudah bulat, dia harus pergi ke luar negeri menjadi TKI untuk mengubah nasib. Bayangan mendapat gaji tinggi (di Arab Saudi katanya gaji pembantu bisa mencapai 4 juta per bulan) membuat dia ingin segera berangkat. Tentu saya tidak bisa menahan si Bibi, itu hak dia untuk menentukan hidupnya.