Kakekku meninggal waktu aku kelas 6 SD. Jadilah nenekku tinggal sendiri di rumahnya.Bapak dan ibuku beberapa kali merayu nenek supaya pindah ke rumah kami, karenatak tega melihat nenek hidup sendiri, tapi nenek selalu menolak. Alasannya, takingin meninggalkan rumah yang penuh kenangan. Akhirnya bapak dan ibukumengalah, dan berusaha meluangkan waktu untuk mengunjungi nenek setiap minggusekali. Tapi karena kesibukan bapak dan ibuku, lama-lama frekuensi kunjungankami makin berkurang. Kadang satu bulan sekali, kadang lebih.

Saat aku SMP, aku sering ditugasi ibu untuk mengunjungi nenek karena aku sudah bisa naik motor sendiri. Lagi pula aku adalah cucu tertua nenek. Terus terang aku enggan, karena nenek sangat cerewet dan suka mengatur. Usianya sudah enam puluh tahun lebih waktu itu, tapi masih mampu melakukan segala sesuatunya sendiri. Termasuk bersih-bersih rumah. Tapi, yah ... terpaksa. Kalau tidak diiming-imingi uang saku lebih oleh ibu, aku lebih suka main ding dong dengan teman-temanku. Hal itu berlangsung hingga aku kelas 3 SMP.

Suatu hari, sepulang sekolah, ibu menyuruhku ke rumah nenek untuk mengantar kue sisa arisan ibu yang berlebih karena banyak yang tidak datang. Tapi waktu mau masuk gerbang perumahan di mana nenek tinggal, ban motorku bocor. Untung ada tukang tambal ban di situ. Celakanya, ada dua motor yang juga bocor bannya sebelum aku, hingga aku harus menunggu lama. Kupikir, daripada menunggu, lebih baik kutinggal saja motorku di situ, dan aku jalan kaki ke rumah nenek yang tak begitu jauh letaknya.

Sesampai di rumah nenek, sepertibiasa aku nyelonong saja masuk. Namun belum lagi mulutku teriak memanggilnenek, kudengar suara, seperti suara lelaki. Nada suaranya itu yang membuatkuurung buka mulut. Seperti suara mengerang dan berasal dari kamar nenekku.Diam-diam aku mendekati pintu kamar nenek yang terbuka sedikit. Dari celah ituaku bisa melihat almari bercermin, dan di cermin itu aku melihat seoranglaki-laki berdiri membelakangi cermin dengan celana melorot di lantai,sementara seorang lagi, yang aku yakin itu nenek, tengah duduk di tempat tidurtepat di hadapan laki-laki itu, sambil “melakukan sesuatu” pada laki-laki itu.

Sontak darahku berdesir. Kuusap mataku beberapa kali seolah tak percaya pada apa yang kulihat. Dua manula tengah beraksi layaknya muda-mudi yang sedang dirasuki birahi. Sekitar lima menit aku terpaku melihat adegan syur itu, tapi aku buru-buru kabur dari situ begitu melihat laki-laki itu merebahkan nenek (dan ternyata nenek sudah setengah bugil!) di ranjang dan melepas celananya lalu menindih nenek! Dari situ aku tahu kalau laki-laki itu adalah mbah Pramono (bukan nama sebenarnya), tetangga nenek sendiri. Dan, setahuku mbah Pramono ini punya istri. Wah!

Aku bingung mau kabur ke mana. Akhirnya aku nongkrong di gardu pojok jalan sambil pikiranku melayang tak karuan, menduga-duga apa yang mereka lakukan saat ini, sambil mataku mengawasi rumah nenek yang berjarak sekitar 50 meter. Aku tak menyangka kalau orang setua mereka masih bisa melakukan adegan seperti yang kutonton di film biru. Pikiranku makin melayang jauh ke belakang. Apa ini yang membuat nenek ngotot tak mau pindah dari situ? Sejak kapan mereka melakukan itu? Apa sejak kakek meninggal atau justru sebelum? Atau tadi itu baru awal? Lalu aku mulai menganalisa mbah Pramono. Istrinya gemuk dan aku pernah bertemu dengannya saat bertandang ke rumah nenek.

Sekitar 20 menit kemudian aku melihat mbah Pramono keluar dari rumah nenek sambil menenteng tool box. Aku buru-buru sembunyi di balik dinding gardu, mengamati sampai mbah Pramono masuk rumahnya. Tampaknya mereka sudah selesai, pikirku. Begitu mbah Pramono tak terlihat lagi, aku segera melangkahkan kaki menuju rumah nenek. Tapi sebelumnya aku sudah mempersiapkan diri lebih dulu untuk bersandiwara.

Nenek menyambutku begitu akumasuk rumahnya. Wajahnya terlihat lebih ceria dibandingkan sebelumnya. Mungkinsudah puas, pikirku. Kuserahkan bingkisan dari ibuku sambil berbasa-basi. Entahkenapa, tiba-tiba muncul iseng dalam hatiku. Kukatakan kalau di jalan akumelihat mbah Pramono keluar dari rumah nenek. Nenek menjawab dengan santai.Katanya ia minta tolong mbah Pramono untuk memperbaiki kran dapur yang bocor.Aku manggut-manggut saja dengan wajah lugu.

Sejak itu aku jadi bersemangat kalau ibu menyuruhku ke rumah nenek. Siapa tahu dapat tontonan syur lagi. Sayangnya, kesempatan untuk itu tak pernah kudapat lagi. Hingga sekarang. Aku tak tahu, apakah dengan bertambahnya usia mereka, masih punya keinginan melakukan hal itu. Yang jelas, nenek masih seenerjik biasanya. Dan kudengar istri mbah Pramono meninggal karena sakit tua. (*)
CERITA SERU LAIN KLIK DISINI